Personel TNI Angkatan Darat melakukan pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur jembatan di tiga wilayah di Provinsi Aceh, yakni Kabupaten Aceh Utara, Aceh Barat, dan Bener Meriah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan struktur jembatan serta memulihkan akses transportasi warga yang terputus akibat bencana maupun beban berlebih.
Uji Beban Jembatan di Aceh Utara
Di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, personel TNI AD melaksanakan uji kelayakan pada jembatan modular tipe Bailey yang baru saja rampung dibangun. Proses pengecekan dilakukan melalui metode uji beban dan uji defleksi untuk memastikan kekuatan dan keamanan struktur jembatan sebelum digunakan masyarakat.
Komandan Yonzipur 5/ABW menyampaikan bahwa secara teoritis, struktur utama jembatan mampu menahan beban hingga 50 ton. Namun, mengingat kondisi pangkal jembatan (abutmen) dan akses jalan menuju lokasi, otoritas menetapkan batas operasional maksimal antara 15 hingga 20 ton saja.
Pembatasan ini bertujuan untuk menjaga ketahanan dan usia pakai jembatan agar manfaatnya dapat dirasakan jangka panjang oleh petani dan pekerja kebun di Desa Kubu.
Pembukaan Jalur Darurat di Aceh Barat
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Aceh Barat, di mana banjir susulan mengakibatkan akses utama menuju Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, terputus total. Jalan penghubung sepanjang lebih dari 200 meter mengalami ambrol, sehingga warga terisolasi dan distribusi hasil pertanian serta kebutuhan pokok terhambat.
Merespons hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat bersama prajurit TNI dari Kodim 0105 mengerahkan lima unit alat berat ke lokasi. Petugas kini tengah fokus membuka jalan baru dengan memotong perbukitan di sekitar titik longsor serta mengalihkan aliran sungai agar tidak kembali mengikis bahu jalan. Jalur darurat ini diharapkan segera dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat.
Perbaikan Jembatan di Lintas Bireuen-Takengon
Sementara itu, jembatan Bailey di lintas nasional Bireuen-Takengon, tepatnya di kawasan Tenge Besi, Bener Meriah, mengalami kerusakan pada bagian galangan. Kerusakan ini dipicu oleh kendaraan yang melintas dengan tonase melebihi kapasitas yang direkomendasikan.
Personel TNI AD dari Yonzipur 5 Kodam V/Brawijaya serta Yonzipur 4 Kodam IV/Diponegoro diterjunkan untuk melakukan perbaikan lokal berupa penggantian dan penambahan besi galangan agar struktur lebih kokoh. Jembatan bailey ini memiliki panjang 20 meter dan lebar 3,2 meter, aman untuk dilintasi kendaraan roda dua hingga empat dengan maksimal 20 ton.
Meskipun jembatan sedang dalam perbaikan pengendara atau pengguna jalan masih bisa melewati jalur di samping jembatan bailey secara satu arah.
Upaya perbaikan dan pengujian infrastruktur di ketiga wilayah ini menjadi vital mengingat peran jembatan sebagai urat nadi perekonomian, pelayanan kesehatan, dan pendidikan bagi masyarakat setempat.