Kondisi Pengungsian Gempa Sikka: Logistik Aman, Anak-Anak Mulai Terserang ISPA

24 August 2026 09:02

Memasuki hari kedelapan pascagempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), lebih dari 1.400 warga masih memilih bertahan di posko pengungsian Lapangan Gelora Samador, Kabupaten Sikka. Mayoritas pengungsi yang memadati kawasan ini merupakan warga dari wilayah pesisir, di antaranya dari Desa Wuring, Wuring Laut, dan Desa Bebeng.

Keengganan warga untuk kembali ke kediaman masing-masing rupanya bukan disebabkan oleh kerusakan bangunan. Kondisi rumah warga di kawasan tersebut sebagian besar dilaporkan tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan fatal. Alasan utama mereka bertahan di pengungsian adalah rasa trauma yang mendalam terkait potensi gempa susulan. Bayang-bayang kelam musibah gempa bumi dan tsunami tahun 1992 yang pernah meluluhlantakkan pesisir Sikka dan menelan banyak korban jiwa, membuat warga memilih langkah antisipasi.

 
Kekhawatiran masyarakat pesisir tersebut turut sejalan dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pihak BMKG memprediksi bahwa aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi selama dua hingga tiga pekan ke depan.

Berdasarkan arahan sementara di lokasi pengungsian, warga rencananya baru akan diizinkan kembali ke rumah masing-masing pada 28 Agustus 2026 mendatang apabila status keamanan sudah benar-benar kondusif.

Jurnalis Metro TV, Nadia Soraya melaporkan kebutuhan logistik dasar warga terpantau terpenuhi dengan baik. Kementerian Sosial (Kemensos) bersinergi dengan TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan Dinas Sosial setempat secara rutin menyediakan makanan tiga kali sehari melalui fasilitas dapur umum. Sistem distribusi makanan pun dilakukan secara tertib dengan memanggil perwakilan warga berdasarkan urutan dari 38 tenda yang tersedia.

Pasokan gizi dan konsumsi warga diperhatikan dengan baik melalui variasi menu harian yang mencakup nasi, mi, dan ikan. Ketersediaan air minum bersih yang sebelumnya sempat dikeluhkan warga juga telah tertangani dan dipastikan mencukupi kebutuhan harian para pengungsi.

Meski urusan logistik pangan tergolong aman, tantangan baru mulai muncul dari sektor kesehatan lingkungan. Tebalnya debu yang beterbangan dan teriknya paparan sinar matahari di area Lapangan Gelora Samador mulai memicu masalah kesehatan, khususnya pada kelompok usia rentan.

Banyak anak-anak di lokasi pengungsian dilaporkan mulai terserang batuk, pilek, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Merespons situasi ini, tim medis di posko kesehatan terus disiagakan setiap saat untuk memberikan pengecekan kesehatan dan mendistribusikan obat-obatan yang diperlukan.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X