RS Yarsi: Korban Ledakan SMAN 72 Mengalami Robek Gendang Telinga

13 November 2025 13:53

Direktur Rumah Sakit (RS) Yarsi Muhammadi menyebut korban ledakan di SMA Negeri (SMAN) 72 mengalami gejala ringan hingga sedang. Sebanyak enam siswa mengalami robek gendang telinga dalam peristiwa naas itu.

"Hasil pemeriksaan kita saat ini menunjukkan gejala ringan sedang. Jadi, untuk permanen rasanya belum. Jadi kita masih berproses dari 17 yang dirawat inap ada enam yang memang membran gendang telinganya robek yang akan kita evaluasi lebih lanjut," tutur Direktur Rumah Sakit Yarsi Muhammadi.

"Tiga orang direncanakan untuk rencana operasi di karena luka robekannya cukup besar. Sedangkan yang lukanya kecil tidak besar itu diharapkan karena usianya masih muda menurut para pakar telinga hidung dan tenggorokan (THT) di tempat kami, akan menutup dengan sendirinya. Itu yang akan kita lakukan monitoring dan evaluasi di rawat jalan," jelasnya.

Sementara itu, pihak RS masih berkoordinasi dengan Dinkes DKI Jakarta untuk menuntaskan pembiayaan penanganan pasien korban ledakan di SMAN 72.

"Kami masih berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk membicarakan teknis pembiayaan karena dari Pak Menteri Sosial yang berkunjung ke Rumah Sakit Yarsi dan Bu Menteri PPPA dan Pak Wagub itu menyatakan bahwa ini akan dijamin oleh pemerintah dan saat ini saya konfirmasi ke Pemrov DKI melalui Dinas Kesehatan mereka masih menetapkan mekanisme tata cara pembiayaan," tambahnya.''
 

Baca: Siswa Pelaku Ledakan SMAN 72 Terinspirasi Ekstrimis Kulit Putih

Penanganan Trauma Jangka Panjang

Aktivis perdamaian Hasibullah Sastrawi menyebut penanganan pasca ledakan di SMAN 72 harus dilakukan dalam jangka panjang.

"Kalau menurut saya yang paling penting sekarang kita belajar dari pengalaman, memahami dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Yang pertama kalau kita belajar korban bom terorisme yang saya bilang tadi walaupun ada kemungkinan berbeda, ini mungkin akan ada efek jangka panjang ya," ucapnya.

"Jadi kita harus kerja keras yang berkepanjangan baik secara tenaga ataupun secara anggaran terutama kepada pihak pemerintah. Kita harus sudah mulai bekerja secara terstruktur dan sistematis yaitu membackup menurut
struktur yang ada. Misalkan sekarang sekolah, sekolah ini walaupun ini sekarang memang ada, jangan kemudian dinihilkan strukturnya dianggap tidak ada. Ini justru akan membuat pekerjaan lebih banyak lagi," kata dia.

Ia menambahkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) harus melakukan pengawasan secara menyeluruh dan jangka panjang bersama sekolah dan guru.

"Jadi kita harus berani untuk berdiri bersama kepala sekolah, para guru menghadapi tantangan ini. Mungkin Kemdikdasmen menjadi supervisi di situ. Tapi jangan logika kemudian diambil alih. Kalau semuanya diambil alih wah ini akan repot lagi memulai dari nol," ucapnya.

"Jadi ayo kita ajak semua berdiri dengan keluarga sekolah SMAN 72 ini. Kita hadir untuk mereka menguatkan mereka yang mungkin trauma kita bikin kluster siapa, bentuknya seperti apa, tapi sekali lagi menurut saya struktur yang dibutuhkan adalah sekolah harus dijadikan di depan, guru ada di depan, kemudian yang lain mulai dari mungkin peneliti, pengawas, atau mungkin pemerhati apapun ada di belakang untuk men-support itu semua," kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Diva Rabiah)