Luhur Hertanto • 10 October 2022 15:06
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta atau TGIPF kanjuruhan mengungkap hasil temuan sementara tragedi kanjuruhan. Salah satunya Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur tidak layak menggelar pertandingan dengan resiko tinggi.
TGIPF terus mengmpulkan keterangan dan bukti terkait tragedi kanjuruhan. Sejauh ini tim sudah bertemu dengan semua unsur pengamanan terkait, baik dari panitia pelaksana, perwakilan Aremania, kepolisian, hingga unsur TNI untuk mendapatkan keterangan yang komprehensif dari berbagai pihak terkait kejadian.
Tim juga memeriksa lokasi Stadion Kanjuruhan. Anggota TGIPF, Nugroho Setiawan menyatakan laga antara Arema FC vs Persebaya Surabaya 1 Oktober lalu merupakan pertadingan dengan risiko tinggi atau high risk match.
Panitia pelaksana harusnya membuat perhitungan secara rinci dan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Sejauh ini Stadion Kanjuruhan dinilai tidak layak untuk menggelar pertandingan beresiko tinggi. TGIPF juga telah melihat rekaman dari kamera CCTV saat tragedi kanjuruhan terjadi.
"Tadi Saya sempat melihat rekaman CCTV kejadian khususnya di pintu 13, mengerikan sekali," ujar Nugroho.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga menyebut telah bertemu dengan PSSI, klub kelompok suporter, dan sejumlah pihak lain terkait evaluasi secara total sepak bola Indonesia seperti yang diminta oleh Presiden Joko Widodo.
Secara pararel polisi juga terus melakukan penyelidikan terkait peristiwa ini. Tim Inafis yang terdiri dari sekitar enam orang Minggu (9/10/2022) sore membawa kamera tiga dimensi dan mendatangi satu per satu pintu keluar 3, 10, 11, 12 dan 13 Stadion Kanjuruhan, Malang. Gambar tiga dimensi yang didapat dari lima pintu keluar Stadion Kanjuruhan ini kemudian akan dicocokkan dengan bukti CCTV yang sudah dianalisa oleh polisi.