8 February 2023 07:40
Gempa yang terjadi di Turki dan Suriah, Senin (6/2) dini hari, adalah duka dunia. Hingga kemarin sore, korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang.
Komitmen pemerintah RI untuk segera mengirimkan bantuan adalah solidaritas yang seharusnya. Terlebih, Turki juga selalu cepat mengulurkan bantuan saat Indonesia diterpa bencana.
Di luar soal solidaritas, gempa Turki juga memberi pelajaran berharga bagi Indonesia. Turki sama dengan Indonesia yang berada jalur di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. Jika Indonesia dikelilingi lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, Turki berada di pertemuan lempeng Anatolia, Arabia, dan Afrika.
Sebab itu, seperti juga Indonesia, gempa langganan di Turki, bahkan yang bermagnitudo besar. Selama 25 tahun terakhir ada tujuh gempa dengan magnitudo di atas 7. Namun, gempa magnitudo 7,8 yang terjadi Senin tersebut merupakan yang terbesar sejak 1939. Kala itu, jumlah korban tewas mencapai 30 ribu orang.
Di berbagai bencana gempa itu, ambruknya bangunan dengan bentuk lempengan-lempengan yang bertumpuk, atau disebut pancake mode, menjadi penanda muda kegagalan konstruksi. Pada 2011 pun, Recep Tayyip Erdogan yang kala itu menjabat perdana menteri marah besar akan hal tersebut. Ia menyebut keteledoran kerja para kontraktor yang menjadi pembunuh di saat bencana.
Kita harus mafhum jika konstruksi antigempa tercanggih pun memiliki keterbatasan. Mitigasi terbaik untuk daerah yang sangat rawan gempa ialah dengan tidak menjadikannya wilayah hunian.
Tidak hanya persoalan teknis, kita harus menyadari bahwa mitigasi budaya juga penting. Tersedianya jalur evakuasi hingga berdirinya selter-selter tetap tidak akan menyelematkan jika warga tidak waspada bencana.
Budaya kesiapsiagaan haruslah berwujud dalam keseharian, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Maka, pengetahuan dasar seperti mencari tempat berlindung hingga menyiapkan tas bencana mestinya jadi pengetahuan lumrah. Tanpa pembiasaan-pembiasaan itu, ancaman bencana akan terus jadi nestapa.