Karhutla Masih Membara: Ratusan Ribu Warga Kena ISPA, 10 Relawan Gugur

27 October 2026 10:44

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus membara di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Bencana ekologis ini tidak hanya memicu kabut asap pekat yang mengancam kesehatan ratusan ribu warga, melainkan juga merenggut ruang hidup satwa liar hingga menelan korban jiwa di kalangan petugas dan relawan garda terdepan pemadaman.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 Oktober 2026, total luasan lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas telah mencapai 18.421 hektare.

Wilayah Kalimantan menjadi penyumbang lebih dari separuh total kebakaran dengan luasan 11.202 hektare. Provinsi Kalimantan Tengah menjadi daerah terparah dengan lahan terbakar mencapai 7.938 hektare, disusul Kalimantan Selatan (1.974 ha) dan Kalimantan Barat (1.290 ha).

Sementara di Pulau Sumatra, kebakaran lahan paling luas terjadi di Sumatera Selatan seluas 5.194 hektare, diikuti Provinsi Jambi seluas 2.025 hektare.

Guna menahan laju rambatan api, BNPB bersama tim gabungan telah mengerahkan hampir 40.000 personel satgas darat dan udara di Kalimantan, dengan lebih dari 16 ribu personel di antaranya dikonsentrasikan di titik-titik rawan Kalimantan Tengah.

333 Ribu Kasus ISPA, Balita Paling Rentan


Pekatnya kabut asap memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data Kementerian Kesehatan periode 18 hingga 21 Oktober 2026 mencatat sebanyak 333.470 kasus ISPA terjadi secara kumulatif di wilayah terdampak bencana, dengan rata-rata penambahan harian mencapai 4.522 kasus.

Sebanyak 75.172 kasus di antaranya menyerang kelompok anak rentan usia 0 hingga 5 tahun (balita).

Kemenkes mengingatkan bahwa asap karhutla mengandung partikel mikro berbahaya PM2.5, karbon monoksida (CO), serta nitrogen dioksida (NO2) yang dapat masuk menembus organ paru-paru terdalam. Partikel ini memicu asma akut hingga Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), khususnya bagi bayi, lansia, ibu hamil, serta pekerja luar ruangan.

Sebagai langkah tanggap darurat, pemerintah telah menyiagakan 1.691 Puskesmas, 491 Rumah Oksigen, rumah sakit rujukan, dan mengaktifkan layanan darurat Public Safety Center (PSC) 119.
   

Gugurnya 10 Pejuang Pemadam Api


Kerasnya medan pemadaman lahan gambut menuntut pengorbanan besar. Sepanjang periode 27 Agustus hingga 23 Oktober 2026, tercatat 10 petugas dan sukarelawan pemadam gugur dalam tugas.

Di Kalimantan Tengah, Akhmad Rizani (Ketua Tim Serbu Api Kelurahan Palangka) gugur pada 27 Agustus, disusul relawan Kotawaringin Barat Ahmadin (30 Agustus) dan Aries Sutio Luthfil Hadi (10 September).

Tragedi kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merenggut enam pejuang lingkungan, yakni Sukaris, Hendra Rony Wagiyanta, Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah yang gugur pada 15 Oktober, serta Munawi (19 Oktober) dan Suraji (23 Oktober) yang mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan luka bakar kritis di rumah sakit.

Sementara di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, seorang anggota barisan pemadam kebakaran (BPK) swadaya, Nordin alias Amang Udin, berpulang pada 21 Oktober saat bertugas.

Ratusan Satwa Dievakuasi dari Habitat


Kebakaran hebat turut memporak-porandakan habitat satwa endemik. Data Kementerian Kehutanan mencatat ratusan satwa liar terpaksa dievakuasi dari habitat aslinya yang luluh lantak.

Evakuasi terbanyak tercatat di Kalimantan Selatan dengan 105 ekor satwa, Kalimantan Barat 71 ekor, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur masing-masing 48 ekor, serta kawasan Sumatra (Riau, Jambi, Sumsel) sebanyak 18 ekor. Penanganan ini mencakup penyelamatan, observasi medis, hingga program pelepasliaran kembali.

Warga diimbau untuk tidak menangkap atau mengevakuasi satwa secara mandiri tanpa pendampingan ahli guna menghindari risiko bahaya bagi satwa maupun manusia.

5 Terobosan Penanganan dan Uji Coba Inovasi


Pemerintah mengoptimalkan sedikitnya lima strategi dan terobosan teknologi untuk menaklukkan karhutla gambut:
  1. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): Penaburan garam khusus di udara guna memicu terjadinya hujan buatan.
  2. Water Bombing: Pengeboman air dari helikopter untuk membasahi titik-titik api yang sulit ditembus jalur darat.
  3. Dry Ice (Es Kering): Metode penyebaran es kering ke awan potensial guna mempercepat proses kondensasi hujan.
  4. Realiza Antichamas: Pengujian serbuk khusus asal Brasil yang dilarutkan ke dalam air untuk menghasilkan lapisan gel penahan kobaran api di lahan gambut.
  5. Cairan X-Fire: Inovasi penanganan karhutla dari kepolisian yang dirancang dengan kemampuan meresap ke pori-pori gambut dalam demi memadamkan sisa bara api di bawah permukaan tanah.

Integrasi inovasi teknologi, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, serta peningkatan jaminan keselamatan bagi satgas lapangan menjadi kunci mutlak agar bencana tahunan karhutla ini dapat segera teratasi.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X