Militer Iran Siaga Penuh Lindungi Fasilitas Nuklir

11 May 2026 23:29

Di tengah alotnya pembicaraan proposal damai secara tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran, militer Iran secara tegas menyatakan kesiapannya untuk melindungi fasilitas nuklir negara tersebut dari segala bentuk ancaman luar. 

Salah satu poin paling krusial yang mengganjal negosiasi adalah masa depan stok uranium Iran yang telah diperkaya. Juru bicara militer Iran, Brigjen Akrami Nia, menegaskan bahwa pasukan reguler maupun Garda Revolusi (IRGC) kini dalam kondisi siaga tinggi untuk menjaga lokasi-lokasi strategis penyimpanan uranium tersebut.

Pihak militer Iran mengeklaim telah mengantisipasi adanya rencana musuh, termasuk retorika dari pihak Amerika Serikat yang menyerukan penghancuran stok uranium 60 persen milik Iran atau upaya untuk mengeluarkannya secara paksa dari wilayah kedaulatan Teheran.

"Kami sebelumnya sudah memperkirakan hal itu akan terjadi. Ada pernyataan yang terus disampaikan bahwa Republik Islam Iran memiliki uranium yang diperkaya hingga level 60 persen dan itu harus dihancurkan. Karena kami mengetahui rencana mereka, kami berada dalam kondisi siaga penuh," tegas Brigjen Akrami Nia dikutip dari Headline News Metro TV, Senin 11 Mei 2026.

Narasi mengenai bahaya nuklir Iran telah diembuskan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat selama puluhan tahun sebagai dasar untuk menekan Teheran. Namun, Iran tetap bersikeras bahwa pengembangan energi nuklir adalah hak sah mereka sebagai negara berdaulat.

IAEA: Pengayaan Uranium Iran Dekati Level Senjata

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran saat ini tercatat memiliki lebih dari 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen. Angka ini dinilai para ahli hanya selangkah lagi menuju tingkat pengayaan yang diperlukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, sebelumnya mengindikasikan bahwa sebagian besar cadangan uranium dengan pengayaan tinggi ini kemungkinan besar tersimpan di kompleks nuklir Isfahan. Lokasi ini sebelumnya sempat menjadi sasaran agresi udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, yang memicu peningkatan sistem pertahanan di area tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)