Jakarta: FIFA World Cup dikenal sebagai turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Namun sepanjang sejarahnya, kompetisi ini tidak selalu bebas dari dinamika politik internasional. Beberapa negara bahkan pernah menolak berpartisipasi atau memboikot turnamen karena konflik, protes, atau keputusan organisasi sepak bola dunia.
?Deretan Negara yang Pernah Memboikot Piala Dunia
Sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara
olahraga dan politik kerap saling memengaruhi, termasuk dalam ajang sebesar Piala Dunia.
1. Uruguay – Piala Dunia 1934
Pada edisi 1934 yang digelar di Italia, juara bertahan Uruguay justru tidak ikut serta. Dalam catatan sejarah turnamen yang dirangkum oleh FIFA, Uruguay memutuskan tidak berpartisipasi sebagai bentuk protes karena banyak negara Eropa sebelumnya menolak datang saat Uruguay menjadi tuan rumah Piala Dunia 1930.
2. Negara Inggris Raya – Piala Dunia 1934
Empat negara di kawasan Britania, yaitu Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, juga tidak ikut dalam turnamen tersebut. Pada masa itu asosiasi sepak bola Britania sedang keluar dari FIFA dan lebih fokus pada kompetisi regional mereka sendiri.
3. Argentina – Piala Dunia 1938
Argentina memutuskan tidak mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis. Sejumlah catatan sejarah sepak bola menyebut keputusan itu dipicu kekecewaan Argentina karena tidak dipilih sebagai tuan rumah turnamen.
4. Negara-negara Afrika – Piala Dunia 1966
Menjelang Piala Dunia 1966 di Inggris, banyak negara dari benua Afrika memboikot turnamen. Protes ini muncul karena sistem kualifikasi saat itu dinilai tidak memberi peluang yang adil bagi negara Afrika untuk lolos ke putaran final.
5. Uni Soviet – Piala Dunia 1974
Uni Soviet menolak melanjutkan pertandingan kualifikasi melawan Chile. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk protes terhadap situasi politik setelah kudeta militer yang terjadi di Chile pada awal 1970-an.
6. Iran dan Isu Menjelang Piala Dunia 2026
Menjelang FIFA World Cup 2026, muncul spekulasi bahwa Iran dapat menghadapi tantangan terkait partisipasi karena ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah turnamen bersama Kanada dan Meksiko.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa meskipun olahraga sering dianggap sebagai ajang pemersatu, realitas politik global tetap dapat memengaruhi jalannya kompetisi internasional. Bahkan turnamen sebesar Piala Dunia pun tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika hubungan antarnegara.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Calista Vanis)