Di tengah padatnya mobilitas dan tingginya tuntutan pekerjaan, banyak ibu pekerja yang terus berupaya keras memberikan hak nutrisi terbaik bagi buah hatinya melalui Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Dalam suasana Pekan ASI Sedunia, potret perjuangan ini tergambar jelas melalui keseharian Annika Risma.
Bagi Risma, rutinitas hariannya sudah dimulai jauh sebelum matahari terbit, tepatnya pada pukul 04.00 pagi. Di tengah padatnya jadwal kerja, ia tetap teguh menjalankan komitmennya. Sebelum berangkat ke kantor, ia memastikan seluruh kebutuhan keluarga telah siap. Dari sekian banyak barang bawaan, perlengkapan memompa dan tas pendingin ASI menjadi hal wajib yang tidak pernah tertinggal.
Meninggalkan bayinya setiap pagi tentu bukan perkara mudah. Namun, senyum dan tawa
sang buah hati selalu menjadi energi utama bagi Risma untuk terus melangkah.
Menembus Padatnya KRL
Perjuangan Risma berlanjut di perjalanan. Setiap harinya, ia harus menempuh waktu tempuh hampir dua jam menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL). Berdesakan di dalam gerbong yang padat pada jam sibuk sudah menjadi makanan sehari-hari.
Di tengah keramaian penumpang komuter tersebut, Risma selalu mendekap dan menjaga tas pendingin penyimpan ASI-nya dengan penuh kehati-hatian. Tas itu akan menjadi wadah bagi setiap tetes ASI perah yang menunjang tumbuh kembang anaknya.
Kembali aktif bekerja tiga bulan setelah melahirkan menuntut kedisiplinan tingkat tinggi. Di sela-sela jam kerja, Risma rutin memompa ASI setiap empat jam sekali. Tentu saja, rutinitas ini tidak selalu berjalan mulus. Kelelahan fisik dan beban pekerjaan sering kali menjadi ujian terberat.
"Ada rasa mau nyerah? Pasti ada. Di saat-saat lagi banyak pikiran, stres, banyak kerjaan atau kecapekan, itu bisa bikin ASI aku jadi sedikit banget dan seret. Sedih banget rasanya kalau kita tidak bisa memberikan ASI sesuai kebutuhan anak," ungkap Risma dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis 6 Agustus 2026.
Kelola Stres Jadi Kunci Keberhasilan
Menyadari bahwa dirinya tidak bisa selalu
standby di rumah, Risma harus pintar menyiasati kondisi tersebut agar kuantitas dan kualitas ASI-nya tetap terjaga. Kunci utamanya adalah menjaga kewarasan pikiran.
"Untuk ngakalinnya, ya harus makan makanan yang enak untuk mengurangi stres. Stres itu sangat berpengaruh untuk kuantitas dan kualitas ASI," tambahnya.
Bagi Risma, menjadi ibu bekerja berarti harus mampu membagi energi, waktu, dan perhatian secara presisi. Namun, ia menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utamanya.
"Saya berkomitmen memberikan ASI sesuai kemampuan saya. Bukan untuk menjadi ibu yang hebat, tapi saya ingin melakukan yang terbaik untuk anak saya. Untuk ibu-ibu di luar sana yang bekerja sekaligus mengasihi, tetap semangat! Makan yang enak, jangan stres, dan
me-time untuk membahagiakan diri sendiri itu penting," pesan Risma.
Di momen Pekan ASI Sedunia ini, dedikasi para ibu bekerja menjadi pengingat bahwa setiap tetes ASI adalah wujud cinta dan pengorbanan nyata. Kesuksesan pemberian ASI ini tentu tidak bisa berdiri sendiri, melainkan butuh dukungan penuh dari keluarga, lingkungan kerja, dan penyediaan fasilitas publik yang memadai.