Prabowo Jawab Kritik Sering Kunker ke Luar Negeri

11 June 2026 00:20

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyinggung adanya kritik dari sejumlah pihak terkait aktivitas kunjungan luar negeri yang dilakukan oleh kepala negara. Menurutnya, presiden yang jarang maupun sering melakukan lawatan ke luar negeri sama-sama tidak luput dari sasaran kritik publik.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu 10 Juni 2026.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mencontohkan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang pada masa pemerintahannya pernah dikritik karena dinilai terlalu jarang melakukan kunjungan ke luar negeri. Sementara itu, dirinya yang kini cukup aktif melakukan lawatan internasional juga mendapat kritik serupa.

"Jadi, ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri disalahkan, ya kan. 'Jokowi enggak pernah ke luar negeri, Jokowi tidak peduli politik luar negeri.' Saya sering ke luar negeri, 'Prabowo sering ke luar negeri, aneh'. Sebenarnya tidak ada masalah begitu," ujar Prabowo dikutip dari Headline News, Metro TV.

Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Lebih lanjut, Kepala Negara menilai bahwa dinamika geopolitik global saat ini berlangsung dengan sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi yang rentan tersebut, Indonesia dinilainya sangat beruntung memiliki landasan politik luar negeri yang kuat, yakni bebas aktif dan non-blok, yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.

Menurut Presiden Prabowo, prinsip tersebut menjadi pedoman utama pemerintah dalam menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan seluruh negara di dunia, tanpa harus terikat pada pakta militer pihak mana pun. Ia menegaskan akan terus mengedepankan filosofi memperbanyak kawan dan meminimalkan musuh.

"Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik non-blok, politik bebas aktif," paparnya.

"Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh," tambah Prabowo.

(Sofia Zakiah)