26 September 2026 10:14
Jakarta: Imam besar dari lima benua hadir di Jakarta dalam International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang mengusung tema ‘Mosque Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace’. Forum yang digelar 25-28 September di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, ini membahas peran imam dalam diplomasi agama dan perdamaian dunia.
Sekretaris Jenderal IPIM sekaligus Sekretaris OC IGIC 2026 Muhammad Taufiqurrahman mengatakan peserta berasal dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, serta Australia dan Selandia Baru. Menurutnya, para imam akan membahas sejumlah persoalan global, mulai dari konflik di Timur Tengah, Islamofobia di Eropa dan Amerika, hingga ekoteologi dan ekonomi berbasis masjid di Asia.
“Tema kita adalah Mosque Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace. Kata kuncinya adalah menyuarakan perdamaian dari mihrab menuju dunia. Imam itu harus lebih dari sekadar pemimpin salat, tetapi juga menyuarakan persoalan-persoalan kemanusiaan. Peserta kita dari lima benua, ada Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Australia dan Selandia Baru. Isu yang kita bawa juga beragam. Di Timur Tengah ada konflik, di Eropa dan Amerika ada Islamofobia, sementara di Asia kita membahas ekoteologi dan ekonomi berbasis masjid,” ujar Taufiqurrahman dalam tayangan Live Event Metro TV, Sabtu 26 September 2026.
Taufiqurrahman mengatakan tantangan utama yang dibahas adalah memperkenalkan diplomasi agama dalam hubungan internasional. Para imam terlebih dahulu akan menyamakan persepsi, kemudian memetakan persoalan di berbagai kawasan untuk merumuskan solusi bersama.
“Religious diplomacy ini belum terlalu familiar dalam hubungan internasional. Karena itu, pertama kita menyamakan persepsi para imam dunia, kemudian kita petakan isu-isu yang ada dan bagaimana solusinya. Harapannya, IGIC ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa menjadi forum tahunan dan terus berkelanjutan,” katanya.
Ketua OC IGIC 2026 Farid F. Saenong mengatakan diplomasi agama dapat menjadi pelengkap diplomasi konvensional. Menurutnya, tokoh agama, khususnya imam masjid, memiliki ruang untuk membangun hubungan antarmasyarakat dan mendorong penyelesaian persoalan global.
Baca Juga :
“Diplomasi konvensional tetap kita perlukan, tetapi ada gap yang bisa kita isi dengan soft diplomacy, people-to-people. Tokoh-tokoh agama, terutama imam masjid, bisa menjadi agen diplomasi yang konstruktif. Kita sudah melihat Istiqlal Declaration dengan Paus Fransiskus sebagai salah satu breakthrough dan responsnya positif di dunia,” ujar Farid.
Farid mengatakan IGIC juga diarahkan menghasilkan ‘Jakarta Understanding’ sebagai suara bersama para imam besar dunia untuk perdamaian. Dalam agenda utama, para imam akan mempresentasikan persoalan regional dan berdiskusi untuk merumuskan solusi.
“Kita berharap dari sini lahir Jakarta Understanding, sebuah suara dari grand imam seluruh dunia untuk perdamaian dunia. Mereka akan menyampaikan persoalan-persoalan di wilayahnya, kemudian kita diskusikan dan cari solusinya bersama,” katanya.
Rangkaian IGIC 2026 dimulai dengan penyambutan delegasi di bandara, jamuan makan siang di Masjid Istiqlal, serta Ambassador Gathering bersama para duta besar negara delegasi. Sebanyak 180 proposal masuk dalam Call for Papers dan 92 di antaranya dipilih untuk dipresentasikan dalam panel.
Rangkaian Road to IGIC telah berlangsung sejak Mei di Samarinda, Makassar, Banten, Surabaya, dan Bandung. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan terhadap gagasan diplomasi agama dan perdamaian yang dibawa IGIC 2026.