23 July 2026 14:15
CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sudah mengelola devisa lebih dari USD10,5 miliar sejak mulai beroperasi penuh pada 1 Juli 2026.
Ditemui usai sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Rosan menyebut pemerintah kini dapat mengonsolidasikan data dari berbagai kementerian dan lembaga, sehingga aktivitas ekspor dapat dipantau secara menyeluruh.
Menurut Rosan, seluruh data dapat dipantau dalam satu platform. mulai dari volume ekspor, pelabuhan keberangkatan, pembayaran bea dan pajak, hingga harga yang dilaporkan eksportir.
Salah satu temuan pemerintah adalah ekspor produk kelapa sawit yang terdapat selisih cukup besar antara harga yang dilaporkan eksportir atau declared price dengan harga acuan atau indeks pasar.
“Antara declared price, jadi harga yang dideklarasikan oleh pada saat penjualan itu, dan indeks itu selama ini ternyata selalu ada gap. Jadi kita bisa lihat tuh, karena sekarang dari kita bisa narik datanya semua, kan dulu kan enggak. Ekspornya ini berapa, pembayaran apa, beanya berapa, kemudian kan beda-beda nih, tidak tetap dari setiap instansi,” ujar Rosan dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Kamis, 23 Juli 2026.
Namun setelah sistem pemantauan diterapkan, Rosan mengklaim selisih harga tersebut mulai menyempit
“Sekarang sejak kemarin kita mulai berlakukan, gap yang tadinya average kurang lebih 30 persen lebih itu, sekarang sudah dengan indeks ini sudah berdekatan. Sudah sangat berdekatan gitu,” ungkap Rosan.
Selain itu pemerintah juga telah memasang sistem peringatan jika ditemukan indikasi perbedaan data maupun harga yang tidak wajar.
“Kita pun pakai sistem alert dan segala macam karena memang seperti yang saya sampaikan, tiga bulan pertama ini kan kita melakukan evaluasi dan monitoring,” ujar Rosan.