Reposisi Hegemoni: Keseimbangan Baru atau Kekacauan Global?

7 March 2026 09:44

Jakarta: Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam memimpin serangan terhadap Iran menuai kecaman keras dari dalam negeri. Senator senior Chuck Schumer menilai langkah tersebut telah melewati batas dan tidak mempertimbangkan risiko besar, termasuk trauma keluarga tentara yang dikirim ke medan perang.

Kritik juga datang dari sejumlah sekutu Amerika Serikat. Beberapa negara menolak permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan militer mereka dalam serangan terhadap Iran. Bahkan, Spain dan United Kingdom disebut menolak permintaan tersebut, yang membuat Trump dikabarkan geram dan mengancam menghentikan kerja sama.

Di tengah memanasnya konflik, adu rudal antara United States, Israel, dan Iran masih terus berlangsung, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.


Perubahan kebijakan luar negeri AS


Amerika Serikat keluar dari Paris agreement, AS juga keluar dari WHO, keluar dari UNESCO, kemudian menunjukkan tekanan terhadap negara-negara anggota NATO, melakukan tekanan terhadap Uni Eropa, mengenakan tarif dagang.

AS juga melakukan agresi militer terhadap Iran, melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden Donald Trump juga berkeinginan merebut Greenland, dan berpotensi melakukan tekanan terhadap Spanyol yang melarang penggunaan pangkalan militer AS.

"Kami akan memutuskan semua perdagangan. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol," kata Trump.

Hedging Strategy sekutu AS dan negara barat


Menghadapi ketidakpastian dinamika geopolitik global imbas sikap politik AS, Uni Eropa melakukan open strategic autonomy (OSA). Negara-negara indo-Pasifik melakukan penguatan aliansi multilateralisme/bilateralism lain.

"Eropa harus menjadi kekuatan geopolitik. Kita harus mempercepat dan mewujudkan semua komponen kekuatan geopolitik: pertahanan, teknologi, dan pengurangan risiko dari semua kekuatan besar," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Sumber: Tim Redaksi Metro TV

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)