Metro TV Tembus Kampung Obo yang Terisolasi Pascagempa NTT

24 August 2026 21:59

Kampung Obo, Desa Nitung Lea, adalah salah satu wilayah yang aksesnya sempat terputus total akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Metro TV menjadi media pertama yang berhasil masuk ke kampung Obo, mendapati kondisi korban gempa yang memprihatinkan karena masih kurangnya bantuan.

Pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah wilayah masih berjuang untuk bangkit. Salah satu yang paling memprihatinkan adalah Kampung Obo di Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.

Kampung ini sempat terisolasi total akibat akses jalan yang terputus. Tim jurnalis Metro TV menjadi media pertama yang berhasil menembus lokasi tersebut guna melaporkan kondisi terkini warga yang terdampak.

Akses Sulit dan Medan Terjal


Perjalanan menuju Kampung Obo bukanlah hal mudah. Dibutuhkan waktu lebih dari satu jam dengan berjalan kaki melewati medan berupa jurang terjal dan jalanan yang rusak parah akibat guncangan gempa. Hingga saat ini, kondisi jalan tersebut belum mendapatkan perbaikan dari pemerintah setempat, sehingga bantuan logistik sulit menjangkau warga.

30 Rumah Rusak Parah


Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, sedikitnya 30 rumah warga di dusun Awamale, Desa Nitung Lea, dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sepuluh hari pascagempa, warga terpaksa masih bertahan di bawah puing-puing bangunan atau di tenda-tenda darurat karena rumah mereka sudah tidak layak huni.

"Warna masih berlindung di rumah yang tertimpa gempa dan beraktivitas secara terbatas," lapor jurnalis Metro TV, Fransiskus Gerardus Molo, dikutip dari tayangan Primetime News Metro TV, Senin, 24 Agustus 2026.
   

Krisis Air Bersih Akibat Bak Penampung Retak


Kebutuhan paling mendesak bagi warga Kampung Obo saat ini adalah air bersih. Selama ini, warga hanya mengandalkan air tadahan hujan yang disimpan dalam bak penampung besar yang dibangun secara mandiri.

Namun, guncangan gempa yang dahsyat mengakibatkan bak-bak penampung tersebut retak dan bocor. Akibatnya, cadangan air bersih warga kini kosong total. Warga sangat mengharapkan bantuan air bersih untuk keperluan memasak, mencuci, dan minum sehari-hari.

Warga kini menempati tenda darurat bantuan dari BNPB. Namun, kondisi di dalam tenda masih sangat minim fasilitas. Warga hanya menggunakan alas bambu dan tikar seadanya untuk tidur di malam hari. Karena kontur tanah di Kampung Obo yang menurun dan tidak rata, posisi tenda-tenda darurat ini terpaksa dipasang secara terpencar.

Meski beberapa warga mulai mencoba kembali beraktivitas seperti berkebun, rasa cemas masih menghantui. Warga berharap pemerintah segera melakukan pendataan menyeluruh dan memberikan bantuan untuk perbaikan rumah mereka.

Harapan terbesar mereka adalah agar bencana ini segera berlalu dan bantuan infrastruktur, terutama akses jalan dan sarana air bersih, segera diperbaiki agar warga dapat kembali hidup dengan layak.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X