9 February 2022 08:53
Terkuaknya perilaku memalukan wisatawan positif covid-19 yang bebas berjalan-jalan di Malang, Jawa Timur, sesungguhnya hanya menambah bukti kendurnya penggunaan aplikasi Pedulilindungi. Sebelum kasus itu, sudah banyak sekali laporan soal diabaikannya Pedulilindungi. Bukan hanya di mal dan tempat wisata, bahkan di instansi dan lembaga pemerintahan pun aplikasi itu sudah tidak digubris.
Ini pula yang terjadi di swalayan yang dikunjungi wisatawan nakal di Malang itu, yang kemudian dengan jemawa ia unggah di medsos. Di luar itu, perilaku sembrono penderita covid-19 memang sangat terbuka. Apalagi sekarang, dengan anggapan varian omikron yang lebih ringan, orang bisa semakin cuek walaupun jelas-jelas positif.Tindakan tegas serupa semestinya dilakukan di seluruh tempat umum lain, baik perbelanjaan maupun perkantoran, yang abai akan penggunaan Pedulilindungi.
Tak berhenti di situ, penegakan penggunaan Pedulilindungi juga tugas seluruh elemen masyarakat, termasuk pers. Kita tidak bisa memungkiri bahwa keberhasilan penanganan covid-19 sejauh ini di Indonesia ialah berkat gotong royong, termasuk konsistensi pers dalam pemberitaan di semua lini, berikut segala kelemahan yang masih terjadi dalam kinerja penanganan oleh pemerintah.