Inovasi Gold Trash di Kulon Progo: Olah Sampah Jadi Energi

20 October 2026 13:38

Warga Dusun Pantog Kulon, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil menciptakan inovasi yang mengatasi persoalan sampah sekaligus memenuhi kebutuhan energi. Mereka mengembangkan sistem Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menggunakan teknologi bernama Gold Trash untuk mengoperasikan pompa air desa.

Operator alat tersebut, Saryanta, menjelaskan bahwa mesin ini memproses berbagai jenis sampah kering seperti ranting, daun, kertas, hingga plastik dengan tingkat kelembapan maksimal 20 persen. Sampah diproses melalui teknik gasifikasi pada suhu sekitar 300 derajat Celcius guna menghasilkan gas sintetik. Gas inilah yang dimanfaatkan sebagai substitusi bahan bakar solar untuk menggerakkan mesin diesel.

"Awalnya kita nyalakan diesel dengan solar dan membakar sampah di tungku. Setelah panas, tungku menghasilkan uap (gas) yang akan mengurangi pengeluaran solar. Energi ini lalu kita gunakan untuk menyalakan pompa yang menarik air dari sungai ke bak penampungan, sebelum dialirkan ke warga untuk kebutuhan pertanian dan perikanan," jelas Saryanta dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa 20 Oktober 2026.

Pemanfaatan teknologi gasifikasi ini diklaim sangat efisien karena mampu menghemat pemakaian solar hingga 70 persen. Dari segi lingkungan, emisi partikulat yang dihasilkan juga tergolong aman, yakni sebesar 90 mg/m³ atau masih jauh di bawah ambang batas standar 120 mg/m³.
 



Inovasi ini memberikan dampak langsung bagi warga, terutama dalam menjaga pasokan air saat musim kemarau. Suwarno, salah satu warga setempat, menyebut ketersediaan air tersebut sangat vital untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), serta menjaga produktivitas lahan. "Air itu pokok buat kehidupan sehari-hari. Terus terang saja, ini sangat bermanfaat sekali untuk penanaman sayuran dan kolam perikanan," ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, pengembangan PSEL skala desa ini mendapat pelatihan dan pendampingan dari PT Pertamina. Manager Humas Pertamina Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, menyatakan bahwa alat Gold Trash merupakan solusi ganda yang sangat relevan dengan kondisi Yogyakarta saat ini.

"Di Jogja sedang marak permasalahan mengenai sampah. Ini bisa menjadi salah satu energi alternatif dari barang buangan yang dimanfaatkan menjadi energi bersih untuk mendorong pompa air dari wilayah bawah ke permukiman di atasnya," tutur Taufik.

Langkah pengolahan sampah mandiri oleh warga ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang tengah membatasi masuknya sampah organik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melalui inovasi pengolahan berbasis masyarakat, volume timbunan sampah diharapkan dapat ditekan sehingga usia pakai TPA bisa diperpanjang khusus untuk penampungan sampah residu.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X