Filosofi 'Tekus Dak Mati, Kucing Dak Malu', Rahasia Wujudkan Harmoni Sosial dari Sumsel

15 March 2026 02:54

Di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat dan kontestasi politik yang sering kali memanas, sebuah kearifan lokal asal Sumatera Selatan kembali mengemuka sebagai solusi mendinginkan suasana. Falsafah tersebut berbunyi: 'Tekus Dak Mati, Kucing Dak Malu'. Secara harfiah, pepatah ini berarti 'tikus tidak mati, dan kucing pun tidak merasa malu'. 

Meski terdengar sederhana, ungkapan ini mengandung kedalaman makna tentang bagaimana manusia seharusnya mengelola konflik dan perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks sosial dan politik, falsafah ini menekankan pentingnya menjaga kehormatan semua pihak yang terlibat dalam sebuah pertentangan.

Penerapan filosofi ini dianggap sangat relevan untuk menghindari perilaku 'saling memangsa' seperti kucing dan tikus di dunia politik maupun sosial. Alih-alih mencari kemenangan mutlak yang mengorbankan pihak lain, falsafah ini mendorong terciptanya win-win solution atau jalan tengah.
 

Baca juga:

'Ngimpi Piak Jari Nyata Lamun Side Bani', Pesan Keberanian Mewujudkan Mimpi dari Sasak


Tak hanya di ranah politik, prinsip ini juga berlaku dalam dunia perniagaan. Dalam Islam, hal ini sejalan dengan konsep an-taradhin atau kesukarelaan antara penjual dan pembeli, di mana negosiasi dilakukan hingga kedua belah pihak merasa ridha dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Dengan menghidupkan kembali filosofi 'Tekus Dak Mati, Kucing Dak Malu', masyarakat diharapkan dapat meraih kebahagiaan dalam kebersamaan, tanpa harus ada pihak yang merasa kehilangan muka atau binasa karena sebuah perbedaan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)