3 September 2026 15:12
Jakarta: Zona megathrust kembali menjadi perhatian ketika membahas potensi gempa bumi berskala besar di Indonesia. Keberadaan zona tersebut tercantum dalam pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang menjadi salah satu rujukan dalam memahami sumber dan potensi bahaya gempa di Tanah Air.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan aktivitas gempa yang tinggi bukan tanpa alasan. Kondisi tersebut dipengaruhi posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng tektonik utama dunia.
Megathrust merupakan salah satu sumber gempa bumi besar yang berada di zona subduksi, yaitu wilayah pertemuan lempeng tektonik ketika satu lempeng bergerak dan menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust karena berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif. Zona tersebut membentang di sepanjang sisi barat Sumatra, selatan Jawa, hingga wilayah Indonesia bagian timur.
Gempa besar yang terjadi di zona megathrust juga berpotensi memicu tsunami, terutama apabila gempa menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut secara signifikan.
Peta sumber gempa Indonesia memuat sejumlah zona subduksi yang menjadi sumber potensi gempa besar. Zona-zona tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Keberadaan zona megathrust ini berkaitan dengan kondisi tektonik Indonesia yang sangat aktif. Karena itu, pemetaan sumber gempa menjadi bagian penting dalam memahami potensi bahaya sekaligus meningkatkan upaya mitigasi bencana.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menaruh perhatian pada dua zona megathrust yang masih berstatus seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Istilah seismic gap merujuk pada wilayah yang dalam waktu cukup lama belum mengalami gempa besar, meskipun berada di zona aktif. Selat Sunda diketahui terakhir mengalami gempa besar pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti gempa besar dipastikan akan terjadi dalam waktu dekat. BMKG menegaskan belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa bumi akan terjadi.
Salah satu dampak yang dapat terjadi akibat gempa megathrust adalah tsunami. Kondisi ini dapat terjadi apabila gempa berpusat di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut secara tiba-tiba.
Gelombang tsunami kemudian dapat bergerak menuju wilayah pesisir dan berdampak pada area di sekitar sumber gempa. Misalnya, apabila terjadi gempa besar di segmen Mentawai-Siberut, wilayah pesisir Sumatra Barat, Sumatra Utara, hingga Bengkulu berpotensi terdampak.
Selain tsunami, gempa megathrust juga dapat menghasilkan guncangan kuat yang berpotensi merusak bangunan dan infrastruktur. Guncangan tersebut juga dapat memicu bencana lain, seperti tanah longsor hingga kebakaran.
Wilayah Indonesia yang berada di sekitar zona megathrust meliputi pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, Laut Maluku, hingga utara Papua.
Karena sebagian zona megathrust berada di laut dan dekat dengan wilayah pesisir, masyarakat di daerah yang berpotensi terdampak perlu memahami risiko gempa dan tsunami serta mengetahui langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan.
Nah, keberadaan zona megathrust bukan berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat. Pemetaan zona tersebut justru penting untuk mengenali potensi bahaya dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gempa maupun tsunami.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Eunike Michelle Gultom)