Jakarta: Dunia tengah menghadapi ancaman krisis energi serius menyusul terganggunya distribusi minyak global di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Jalur strategis yang selama ini menjadi arteri utama perdagangan energi dunia tersebut mengalami penurunan signifikan dalam volume pengiriman minyak. Jika dalam kondisi normal sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari, kini jumlahnya dilaporkan anjlok drastis menjadi kurang dari 2 juta barel per hari.
Mengutip laporan Global Energy Weekly pada awal April 2026, penurunan tajam ini menunjukkan adanya gangguan serius pada rantai pasok energi global. Kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakseimbangan antara negara produsen dan konsumen minyak.
Ancaman Krisis Energi Seperti Era 1970-an
Sejumlah analis memperingatkan, apabila situasi ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, dunia berisiko menghadapi krisis energi yang serupa dengan Krisis Energi 1970-an.
Meski demikian, lonjakan
harga minyak global sejauh ini masih relatif terkendali. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan cadangan darurat yang masih mampu menahan gejolak pasar dalam jangka pendek.
Namun, data pemantauan satelit menunjukkan pasar energi global mulai mengalami pengetatan, yang menjadi sinyal awal potensi gangguan lebih besar ke depan.
Ancaman Kekurangan Pasokan Global
Lembaga keuangan
Bank of America bahkan memproyeksikan potensi kekurangan pasokan minyak hingga 4 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026.
Di sisi lain, negara-negara
produsen minyak justru mengalami penumpukan stok akibat terhambatnya distribusi ekspor. Sebaliknya, negara-negara konsumen menghadapi tekanan karena cadangan energi yang semakin menipis.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dunia berpotensi memasuki fase pembatasan konsumsi energi. Negara-negara yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah kemungkinan harus menerima pengurangan suplai secara signifikan.
Bukan Sekadar Harga, Tapi Ketersediaan
Situasi ini menandai pergeseran risiko dari sekadar kenaikan harga menuju potensi kelangkaan pasokan. Dalam skenario terburuk, krisis energi tidak lagi hanya berdampak pada biaya, tetapi juga pada ketersediaan energi itu sendiri.
Komunitas internasional kini dihadapkan pada tantangan besar untuk segera meredakan ketegangan geopolitik dan membuka kembali jalur distribusi strategis tersebut sebelum dampaknya meluas ke berbagai sektor
ekonomi global.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Muhammad Fauzan)