Slogan 'No Blood for Oil' Menggema di Berbagai Negara Protes Agresi AS ke Venezuela

7 January 2026 02:12

Gelombang protes menentang intervensi dan agresi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela pecah di sejumlah kota besar dunia, termasuk Jakarta, London, hingga Rio de Janeiro. Massa pengunjuk rasa menyuarakan penolakan keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai praktik kolonialisme modern dan upaya perebutan sumber daya alam.

Slogan-slogan perlawanan seperti 'No Blood for Oil' (Tak ada darah untuk minyak) dan 'Hands off Venezuela' (Lepaskan Venezuela) menggema dalam aksi yang menuntut kedaulatan bagi negara Amerika Latin tersebut.

Di Jakarta, aliansi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Massa mengecam keras tindakan pemerintahan Donald Trump yang dinilai telah melanggar hukum internasional melalui agresi militer dan upaya penggulingan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro

Selain itu, massa juga mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas dan keras dalam menolak segala bentuk penindasan di dunia.
 

Baca juga: Jalani Sidang di New York, Nicolas Maduro Bantah Semua Tuduhan

Di London, Inggris, pengujuk rasa memprotes agresi Amerika Serikat ke Venezuela dengan membawa pesan 'People of Palestine and Venezuela, We are with You', 'Hands off Venezuela' dan 'U.S. Imperialism Out of Venezuela'.

Selain membawa tulisan-tulisan yang mengecam Amerika Serikat, massa juga meneriakkan slogan 'No Blood for Oil', yang berulang kali ditegaskan oleh Presiden Maduro. Massa menuntut Maduro dibebaskan.

Sementara itu, di Rio de Janeiro, Brazil, ratusan orang melakukan long march menuju Konsulat Amerika Serikat. Dengan membentangkan bendera Venezuela berukuran raksasa, massa menuduh Amerika Serikat telah mengabaikan fakta perdamaian PBB. 

Di ketiga negara tersebut, terdapat satu tuntutan yang selaras yakni membebaskan Presiden Nicolás Maduro dan membiarkan rakyat Venezuela menentukan nasib negaranya sendiri tanpa campur tangan militer asing. Para pengunjuk rasa menilai bahwa konflik yang terjadi merupakan murni upaya perebutan kontrol atas komoditas minyak dan bukan demi misi kemanusiaan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)