Mendiktisaintek: Kampus Harus Permudah Proses Skripsi, Bukan Menambah Beban

1 August 2026 14:46

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta Universitas Nusa Cendana (Undana) segera menangani kasus mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang diduga mengalami tekanan psikis setelah proses penyelesaian skripsinya berulang kali tertunda. Brian menegaskan perguruan tinggi seharusnya mempermudah proses akademik mahasiswa, bukan justru menambah beban yang dapat berdampak pada kondisi mental.

"Proses menyelesaikan skripsi memang penuh tekanan. Karena itu kami berharap pihak kampus justru membantu proses ini menjadi lebih mudah, lebih transparan, dan lebih jelas bagi mahasiswa, sehingga tidak menambah beban pemikiran mereka. Kampus harus menjadi tempat yang mendukung mahasiswa menyelesaikan studinya, bukan sebaliknya," ujar Brian dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu 1 Agustus 2026. 

Brian mengaku telah menerima laporan terkait kasus tersebut dan langsung berkoordinasi dengan Rektor Undana. Ia juga meminta jajaran rektorat, pimpinan fakultas, program studi, dosen wali, hingga dosen pembimbing segera menemui mahasiswi yang kini masih menjalani perawatan agar mendapatkan dukungan dan motivasi.

"Pertama-tama tentu kami menyampaikan rasa prihatin dan empati yang dalam untuk adik kita, Jessica, yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Saya langsung menghubungi Pak Rektor Universitas Nusa Cendana dan meminta jajaran rektorat, pimpinan fakultas, kaprodi, dosen wali, hingga dosen pembimbing segera menemui mahasiswi ini, memberikan motivasi kembali dan memastikan bahwa mahasiswi tidak terbebani untuk menyelesaikan tugas akhirnya," ujar Brian.

Menurut Brian, berdasarkan data yang diterima kementerian, mahasiswi tersebut merupakan angkatan 2021 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) mencapai 3,5 sehingga secara akademik dinilai memiliki capaian yang baik.

"Kami mendapat informasi bahwa mahasiswa ini angkatan 2021, jadi sebenarnya tergolong cepat untuk menyelesaikan studi. Kami juga mendapatkan informasi IPK adik kita ini sangat tinggi, sekitar 3,5. Karena itu kami berharap proses penyelesaian skripsinya tidak sampai menimbulkan tekanan yang berlebihan," katanya.

Brian mengungkapkan pihaknya juga telah melakukan komunikasi langsung dengan mahasiswi tersebut melalui sambungan video bersama Rektor Undana saat menjenguk di rumah sakit.

"Tadi pagi saya juga sempat melakukan video call langsung kepada adik mahasiswi bersama Pak Rektor yang sedang menjenguk. Kami ingin memastikan kondisinya dan memberikan semangat agar fokus pada pemulihan terlebih dahulu," ujarnya.

Terkait informasi adanya pergantian dosen pembimbing maupun penguji, Brian mengatakan hal tersebut masih didalami. Namun, ia mengakui perubahan-perubahan dalam proses akademik dapat menjadi faktor yang menambah tekanan bagi mahasiswa.

"Kami mendapatkan laporan sempat terjadi beberapa kali pergantian, baik pembimbing maupun pengujinya. Ini yang mungkin membuat adik mahasiswi kita menjadi tertekan. Menyelesaikan skripsi memang penuh tantangan karena penelitian membutuhkan waktu, tenaga, dan pemikiran. Jika ditambah komunikasi yang kurang baik atau perubahan yang terus-menerus, tentu bisa menambah beban psikologis mahasiswa," jelasnya.

Karena itu, Brian meminta pihak kampus membentuk tim untuk menginvestigasi secara menyeluruh penyebab persoalan tersebut agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kami meminta kepada Bapak Rektor untuk membentuk satu tim yang akan melihat dan menginvestigasi di mana letak persoalannya. Kami ingin mendapatkan konfirmasi yang menyeluruh, apakah ada kesalahan dalam proses, komunikasi, atau perubahan-perubahan yang berdampak kepada mahasiswa," ucap Brian.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X