Coach Gregorius Chandra: Menjual Adalah Keterampilan Bertahan Hidup, Bukan Sekadar Jual Produk

28 October 2026 12:50

Keterampilan menjual (selling skill) kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sebatas transaksi barang atau jasa. Padahal, kemampuan menjual sejatinya merupakan keterampilan dasar untuk bertahan hidup (survival skill) yang mutlak dibutuhkan oleh setiap profesi, mulai dari pekerja kantoran hingga pelaku usaha.

Pandangan tersebut disampaikan oleh pembicara publik dan pelatih korporat bidang penjualan dan pemasaran, Coach Gregorius Chandra, dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu, 28 Oktober 2026.

Menurut Gregorius, aktivitas menjual selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun yang berinteraksi dengan orang lain pada dasarnya sedang menjual sesuatu, baik berupa keahlian, konsep kerja, ide, maupun citra diri (personal branding).

"Apa pun yang kita kerjakan dalam hidup, sejatinya kita sedang menjual. Banyak orang keliru mengira jualan itu melulu soal produk atau jasa fisik. Padahal, saat seorang profesional menawarkan ide dan gagasannya kepada atasan atau rekan kerja, itu pun bagian dari menjual," ujar Gregorius.

Komunikasi sebagai Induk Ilmu Menjual

Gregorius menegaskan bahwa induk dari seluruh aktivitas penjualan adalah keterampilan berkomunikasi (communication skill). Menjual bukanlah ilmu tentang produk semata, melainkan ilmu mengenai cara memahami manusia dan pola relasi antarindividu. Karena itu, keterampilan ini bersifat dinamis mengikuti situasi dan lawan bicara (situational leadership).

"Ilmu jualan pertama-tama bukan memahami produk atau jasa, melainkan memahami manusia dan bagaimana berkomunikasi dengan mereka. Begitu keterampilan ini dikuasai, langkah kita, baik dalam meniti karier maupun merintis bisnis, akan jauh lebih mudah dan lancar," jelasnya.
 


Berangkat dari Masalah, Bukan Keuntungan Pribadi

Dalam kesempatan tersebut, Gregorius juga memaparkan konsep Solution Oriented Selling (SOS). Ia mengingatkan bahwa kesalahan paling mendasar pemula saat berjualan adalah terlalu berfokus pada kepentingan diri sendiri, seperti mengejar keuntungan semata.

Menjual yang efektif, kata Gregorius, justru harus bertolak dari sudut pandang konsumen (customer’s point of view). Tujuannya adalah memosisikan diri sebagai mitra yang menyelesaikan masalah (solution partner), bukan sekadar pedagang.

"Ibarat memancing ikan, kita tidak memasang apel di ujung kail meski kita menyukai apel, melainkan cacing karena ikan menyukai cacing. Jualan tidak pernah tentang kita, melainkan tentang kebutuhan konsumen. Jadi, mulailah dengan mendengarkan secara efektif (effective listening) dan mengajukan pertanyaan yang tepat untuk menemukan akar masalah mereka," ungkapnya.

Dari Bertahan Hidup Menuju Memberi Dampak (From Survival to Impact)

Di tengah tantangan mencari kerja saat ini, Gregorius mendorong generasi muda untuk tidak gengsi mengasah keterampilan menjual. Menurutnya, menjual tidak selalu membutuhkan modal uang tunai, melainkan ketekunan, waktu, serta kesiapan mental untuk bangkit saat menghadapi penolakan.

Keterampilan menjual menjadi pijakan awal (survival) untuk menghasilkan arus kas mandiri. Dari titik tersebut, seseorang dapat bertransformasi menjadi pemimpin bisnis yang membangun tim dan pada akhirnya mampu memberi dampak luas (impact) dengan membuka lapangan kerja bagi orang lain.

"Pembeda antara pemenang (champion) dan pecundang (loser) sangat tipis: pemenang selalu bangkit satu kali lebih banyak dibanding saat ia jatuh. Jangan takut menjual, kuasai kemampuan bertahan hidup ini, lalu kembangkan menjadi bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang," pungkas Gregorius.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X