Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus menunjukkan peningkatan signifikan dan berada di status Level III (Siaga). Erupsi menerus yang terjadi sejak awal September 2026 tidak hanya memicu lontaran material pijar, tetapi juga menyebarkan abu vulkanik dalam skala luas yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat hingga sektor penerbangan.
Sejarah dan Karakteristik Erupsi
Secara historis, Gunung Anak Krakatau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Gunung Krakatau induk yang meletus dahsyat pada tahun 416 SM dan 1883 M, hingga membentuk kaldera raksasa di bawah laut. Akumulasi material erupsi dari dapur magma yang sama membuat Anak Krakatau akhirnya muncul ke permukaan laut pada rentang tahun 1927 hingga 1930.
Berdasarkan data Badan Geologi, waktu istirahat erupsi gunung ini berkisar antara satu hingga delapan tahun, dengan siklus aktivitas setiap empat tahun sekali berupa letusan abu dan lelehan lava. Pada rangkaian erupsi terbaru di awal September 2026, tercatat letusan menerus dengan kolom abu mencapai 300 meter di atas puncak serta suara dentuman keras akibat rambatan gelombang akustik berfrekuensi rendah.
Sebaran Abu Vulkanik
Arah dan jangkauan sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kecepatan serta arah angin di berbagai atmosfer. Berdasarkan pemantauan terkini, abu vulkanik telah terpantau menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Provinsi Bengkulu, Lampung, Banten, sebagian besar wilayah Jawa Barat, hingga DKI Jakarta.
Warga di berbagai daerah dilaporkan mendapati debu vulkanik menempel di kendaraan dan teras rumah. Selain itu, fenomena gelombang akustik dari erupsi juga sempat dirasakan warga berupa getaran kaca dan pintu rumah di sebagian wilayah Jawa Barat.
Protokol Mitigasi
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tiga potensi gangguan kesehatan utama akibat paparan abu vulkanik, yakni saluran pernapasan, iritasi mata, serta gangguan pada kulit. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita komorbid diminta untuk lebih berhati-hati.
Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan seluruh puskesmas di wilayah terdampak untuk menyiagakan fasilitas kesehatan memadai, mulai dari alat nebulizer, oksigen konsentrator, obat tetes mata, hingga salep kulit. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker standar minimal KN95 atau N95 serta kacamata pelindung jika terpaksa keluar rumah, serta segera membilas bagian tubuh yang terpapar abu dengan air mengalir tanpa mengucek mata.
Lumpuhnya Sejumlah Sektor Penerbangan
Sebaran abu vulkanik yang mengganggu jarak pandang turut memukul sektor transportasi udara. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub resmi menerbitkan NOTAM (Notice to Air Missions) untuk menutup sementara operasional sejumlah bandara utama.
Tercatat ada lima bandara yang terdampak dan sempat menghentikan operasionalnya, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara Budiarto (Curug), serta Bandara Pondok Cabe.
Di Bandara Soetta dan Halim saja, ratusan penerbangan domestik maupun internasional terpaksa dibatalkan atau dijadwalkan ulang, yang berdampak pada puluhan ribu penumpang. Otoritas terkait bersama maskapai terus melakukan pemantauan ketat secara real-time guna memastikan keselamatan penerbangan sebelum fasilitas bandara dibuka kembali secara bertahap.