Jakarta: Perbedaan penulisan antara “Ramadan” dan “Ramadhan” kerap ditemui di media sosial, artikel, hingga berbagai publikasi. Banyak orang masih bingung menentukan mana penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia.
Secara asal-usul, kata tersebut berasal dari bahasa Arab (Ramadan) yang merupakan nama bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, sekaligus bulan ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa.
Dalam bahasa Arab, bunyi huruf “d” pada kata tersebut diucapkan dengan lebih tegas. Oleh karena itu, dalam proses transliterasi ke huruf Latin, kata tersebut ditulis sebagai Ramadan.
Pengaruh Tradisi Penulisan Lama
Di Indonesia, penulisan “Ramadhan” dengan tambahan huruf h di tengah juga cukup sering digunakan. Bentuk ini muncul karena pengaruh cara pengucapan lokal serta tradisi penulisan lama yang banyak ditemukan dalam buku-buku keagamaan maupun media.
Akibatnya, kedua bentuk penulisan tersebut sama-sama populer dan masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ejaan Baku Menurut KBBI
Meski begitu, secara resmi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menetapkan penulisan “
Ramadan” tanpa huruf h sebagai bentuk ejaan baku. Artinya, untuk penulisan dalam karya ilmiah, media, dokumen resmi, maupun artikel formal, penggunaan kata Ramadan lebih dianjurkan.
Sementara itu, penulisan “Ramadhan” masih dianggap sebagai bentuk populer atau ejaan lama yang tetap dapat dipahami masyarakat, meskipun bukan bentuk baku.
Perbedaan Singkat Penulisan
Secara ringkas, perbedaan kedua penulisan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Ramadan: ejaan baku menurut KBBI dan digunakan dalam penulisan formal.
- Ramadhan: ejaan populer atau tradisional yang masih sering dipakai di masyarakat.
Memahami perbedaan ini dapat membantu masyarakat menggunakan kata yang tepat, terutama dalam penulisan resmi maupun publikasi formal.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Adrian Bachtiar)