11 May 2026 08:46
SEPAK bola Indonesia kembali dipertontonkan sebagai arena pelampiasan frustrasi dan kekerasan. Di tengah euforia kebangkitan tim nasional, realitas muram justru terus dipamerkan di kompetisi domestik. Kericuhan di Jayapura pascalaga Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC menjadi bukti terbaru bahwa sepak bola nasional belum layak naik kelas.
Laga yang berlangsung di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Papua, Jumat (8/5), berubah menjadi kekacauan setelah Persipura kalah 0-1 dari Adhyaksa FC. Kekalahan itu memicu amuk massa. Suporter turun ke lapangan, mengejar pemain dan perangkat pertandingan, merusak fasilitas stadion, bahkan membakar kendaraan.
Ironisnya, peristiwa kekerasan semacam itu bukan kejadian tunggal yang terjadi baru-baru ini. Sebelumnya, pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga melakukan tendangan 'kungfu' terhadap pemain Dewa United U-20, Raka Nur Kholis. Aksi brutal yang yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, pada 19 April 2026, itu memperlihatkan betapa kultur kekerasan sudah dimulai sejak usia muda.
Kedua peristiwa merupakan wajah asli sepak bola Indonesia hari ini. Wajah yang diisi dengan aura kekerasan, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Di satu sisi, ada kebanggaan terhadap prestasi tim nasional yang mulai disegani di Asia. Namun di sisi lain, liga domestik masih dipenuhi kultur kekerasan, emosi tak terkendali, tata kelola lemah, dan penegakan disiplin yang sering kali terlambat serta setengah hati.
Lebih menyedihkan lagi, kekerasan masih menjadi siklus yang terus berulang. Setiap insiden selalu direspons dengan pola serupa; kecaman, rapat evaluasi, sanksi administratif, lalu publik diminta melupakan. Tidak ada perubahan kultur yang sungguh-sungguh dibangun. Tidak ada reformasi mendalam untuk memutus mata rantai kekerasan.
Kasus Fadly Alberto memang akhirnya berujung sanksi berat. Komite Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman larangan beraktivitas di sepak bola selama tiga tahun dan denda Rp15 juta. Namun, hukuman tidak cukup jika akar masalahnya tetap dibiarkan tumbuh. Kekerasan di lapangan lahir dari atmosfer kompetisi yang sejak lama permisif terhadap agresivitas, provokasi, dan tekanan emosional tanpa pendidikan karakter yang memadai.
Begitu pula kericuhan suporter di Jayapura. Tidak cukup hanya menyalahkan emosi pendukung yang kecewa. Pertanyaan lebih besar harus diarahkan kepada federasi dan operator kompetisi, mengapa pengamanan pertandingan terus gagal mengantisipasi potensi kerusuhan? Mengapa edukasi suporter tidak pernah menjadi agenda serius? Mengapa standar keamanan stadion masih begitu rentan ditembus amuk massa?
Kita patut mengapresiasi capaian tim nasional dalam beberapa tahun terakhir. Skuad Garuda berhasil menorehkan sejarah baru, tampil lebih trengginas di kualifikasi Piala Dunia maupun Piala Asia, dan memberikan asa segar bagi ratusan juta rakyat Indonesia.
Akan tetapi, semua itu bak etalase mewah yang menutupi fondasi rapuh di bawahnya. Apalah arti sebuah bangunan dengan etalase yang tampak mengilap jika tiang pancang dan fondasi utamanya dibiarkan lapuk dan bisa runtuh sewaktu-waktu?
Liga domestik, mulai dari level usia dini hingga kasta profesional adalah fundamen dan jantung sepak bola sebuah negara. Di sana ekosistem sepak bola diuji kelayakannya, tempat ratusan klub bergantung hidup, dan tempat jutaan suporter menaruh harapan.
Jika liga domestiknya masih saja sarat dengan aksi premanisme hingga ketidakprofesionalan, klaim bahwa sepak bola kita telah bertransformasi ke arah kemajuan hanyalah pepesan kosong.