27 May 2026 16:00
Jakarta: Perayaan Iduladha, di Kompleks Masjid Nursiah Daud Paloh (NDP), Kedoya, Jakarta Barat, tak hanya diwarnai suasana khidmat salat Iduladha dan penyerahan hewan kurban. Dari mimbar khutbah, terselip pesan tajam tentang makna pengorbanan yang dinilai mulai kehilangan esensi sosial dan kemanusiaannya.
Khatib Iduladha, Ma'mun Murod Al-Barbasyi, mengingatkan bahwa Idul Kurban seharusnya tidak berhenti pada ritual spiritual semata. Menurutnya, nilai pengorbanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu sesama dan memperbaiki kehidupan sosial masyarakat.
“Idul Kurban jangan hanya dimaknai dalam konteks spiritual. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan nilai sosial dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ma’mun dalam tayangan Live Event Metro TV, Rabu 27 Mei 2026.
Ia bahkan menyinggung para pejabat dan elite politik yang dinilai belum sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai ibadah haji dan kurban dalam kehidupan berbangsa.
“Saya kira hampir semua pejabat kita pernah haji dan umrah. Tapi kok seperti tidak ada wujud nyata implementasi dari nilai-nilai itu,” katanya.
Pesan yang paling menyita perhatian datang saat Ma’mun menyampaikan pandangannya soal ibadah umrah dan haji berulang kali. Menurutnya, jika seseorang sudah beberapa kali menunaikan ibadah tersebut, akan lebih baik bila sebagian biaya yang dimiliki dialihkan untuk membantu masyarakat miskin dan anak yatim.
“Kalau sudah tiga kali umrah atau haji, lalu ingin berangkat lagi, lebih baik uangnya diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan mereka yang membutuhkan,” ucapnya.
Pernyataan itu diamini Komisaris Metro TV, Suryo Pratomo, yang menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.