2 October 2026 21:05
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang selama lebih dari 40 hari mengancam keberlangsungan hidup populasi harimau Sumatra. Api yang terus membara dan meluas hingga menghanguskan lebih dari 1.000 hektare lahan kini mengancam keselamatan sekitar 11 ekor harimau Sumatra yang hidup di kawasan tersebut.
Kepala Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaldi, menjelaskan bahwa proses pemadaman di lapangan mengalami kendala berat karena akses lokasi yang sulit.
"Sudah lebih 40 hari Karhutla menyala di kawasan taman nasional belum dapat dipadamkan karena tidak bisa dijangkau jalur darat serta sulit mendapatkan air dan hanya mengandalkan water bombing," ujar Yunaldi dalam tayangan Primetime News Metro TV, Jumat, 2 Oktober 2026.
Akibat pemadaman yang terbatas, kobaran api kian mendekati kawasan hutan primer yang menjadi lokasi habitat utama satwa terancam punah tersebut. Yunaidi mengonfirmasi bahwa jarak antara titik api dan habitat harimau sudah sangat dekat.
"Tidak terlalu jauh, sekitar 2-3 kilo dari titik," ungkap Yunaldi.
Selain mengancam kawasan hutan di Sumatra, dampak karhutla juga melumpuhkan aktivitas warga di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kepulan kabut asap pekat menyelimuti wilayah tersebut sejak pagi hari hingga menurunkan jarak pandang di sejumlah ruas jalan hingga di bawah 50 meter.
Kondisi tersebut memaksa para pengendara menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan demi keselamatan lalu lintas. Selain membatasi jarak pandang, kabut asap tersebut menimbulkan bau menyengat dan memperburuk kualitas udara di Sampit.
Paparan asap pekat ini turut menyelimuti berbagai fasilitas publik, termasuk kawasan perkantoran dan lembaga pendidikan, yang berdampak pada terganggunya aktivitas harian masyarakat.