Bara Api Katulistiwa

12 September 2026 22:42

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut yang melanda Kabupaten Kubu Raya dan mengepung Kota Pontianak, Kalimantan Barat, terus meluas dan telah berlangsung lebih dari 45 hari sejak akhir Juli. Bencana kabut asap kiriman ini memicu lonjakan indeks kualitas udara di Kota Pontianak hingga menyentuh angka 923 pada aplikasi IQAir, yang tergolong dalam tingkat sangat berbahaya bagi kesehatan warga.

Kabupaten Kubu Raya tercatat menjadi penyumbang area kebakaran tertinggi di Kalimantan Barat dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 10 ribu hektare. Wilayah paling terdampak berada di Desa Kali Bandung, Kecamatan Sungai Raya, tempat 75 persen lahannya merupakan gambut tanpa tutupan hutan yang rawan terbakar. 

Kebakaran di desa ini telah membumihanguskan ratusan hektare kebun produktif milik warga, seperti nanas, karet, dan kelapa sawit. Warga Desa Kali Bandung, Miskam, yang telah menetap selama 24 tahun, menyebut musibah karhutla kali ini merupakan yang paling parah sepanjang ingatannya.
 


Upaya penanggulangan karhutla gambut menghadapi kendala ekstrem akibat kedalaman lapisan gambut mencapai 0,5 hingga empat meter yang menyimpan bara api di bawah permukaan. Selain keterbatasan sumber air dan jangkauan selang pemadam, water bombing menggunakan dua unit helikopter selama empat hari dilaporkan belum efektif memadamkan api secara total.

Seorang petugas pemadam di lokasi menjelaskan bahwa karakter lahan gambut membuat api mudah tersulut kembali saat tertiup angin kencang. Kondisi kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Pontianak juga dikeluhkan warga setempat yang menilai tingkat kepekatan asap tahun ini merupakan yang terburuk.

Hingga saat ini, warga dan petugas di lapangan masih terus bersiaga serta membuat penyekatan perimeter guna mencegah bara api bawah tanah merambat lebih jauh ke permukiman.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X