NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Rasa Trauma Semakin Menghantui Warga

20 August 2026 15:59

Warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan di tenda pengungsian. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 06.00 WIB, BMKG mencatat terdapat 3.422 gempa susulan. Gempa susulan yang terus terjadi membuat warga belum berani kembali ke rumah masing-masing.

Di Kabupaten Sikka, sebanyak 1.280 pengungsi masih menetap di Lapangan Gelora Samador. Mayoritas pengungsi berasal dari wilayah pesisir dan memilih bertahan karena gempa susulan masih terus dirasakan.

Salah seorang pengungsi, Samna, mengaku masih trauma untuk kembali ke rumahnya yang berada di kawasan pesisir.

“Kalau sampai sini saya sendiri saya masih rasa trauma karena posisi rumah saya itu memang di pinggir pantai," ujarnya dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Kamis 20 Agustus 2026. 

Samna mengatakan pengalaman gempa pada 1992 membuat warga semakin khawatir dengan gempa susulan yang masih terjadi. Ia memilih mengikuti keluarganya untuk mengungsi hingga kondisi dinyatakan aman.

“Sementara ini apalagi masih terus dengan susulan, jadi tidak bisa kami untuk bertahan kembali pulang ke rumah," katanya. 

Kondisi pengungsian juga mulai berdampak pada kesehatan warga. Sejumlah pengungsi, terutama anak-anak, mengalami batuk, pilek, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Debu yang tebal dan teriknya matahari di Lapangan Gelora Samador turut menjadi persoalan bagi warga.


Meski demikian, kebutuhan dasar pengungsi mulai terpenuhi. TNI AL dan Kementerian Sosial menyediakan makanan setiap hari. Bantuan berupa selimut, air, biskuit, sembako, obat-obatan, hingga popok juga telah disalurkan.

Sementara itu, warga di Kelurahan Lokolobo, Kabupaten Ende, juga masih bertahan di posko mandiri yang dibangun di halaman rumah. Salah satu posko dihuni tiga kepala keluarga atau sekitar 12 orang yang telah tinggal selama lima hari sejak gempa.

Salah seorang warga, Irham, mengatakan kebutuhan utama warga saat ini bukan hanya bantuan sembako, tetapi tempat tinggal yang layak dan dukungan psikologis.

“Yang kami butuh itu tempat tinggal," ucapnya. 

Irham juga mengaku masih merasakan trauma akibat gempa yang terjadi. Menurutnya, warga di lokasi tersebut belum mendapatkan bantuan psikologis.

“Masih ada terasa trauma. Ibu-ibu juga ada terasa trauma juga," ungkapnya. 

Hingga kini, warga masih memilih bertahan di pengungsian sambil menunggu kondisi dinyatakan aman untuk kembali ke rumah.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X