Bukan Sekadar Taksi Listrik Mogok, Ahli Ungkap Kejanggalan Kecelakaan Kereta di Bekasi

28 April 2026 19:28

Jakarta: Seluruh pihak masih menunggu keterangan resmi penyebab kecelakaan kereta yang melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line PLB 5568A relasi Cikarang–Kampung Bandan, dengan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi, di Stasiun Bekasi Timur. Namun, banyak yang memberikan kesimpulan sementara bahwa penyebab kecelakaan karena adanya taksi listrik yang mogok di jalur perlintasan kereta.

Ketua Masyarakat Perkeretaapian Indonesia Hermanto Dwiatmoko menilai penyebab kecelakaan tidak bisa disederhanakan hanya karena satu faktor saja. Dalam kasus ini mobil taksi listrik yang mogok hingga tertemper KRL. Kasus ini harus dilihat secara menyeluruh.

"Kita harus melihat secara keseluruhan. Tidak hanya melihat apakah penyebabnya karena taksi atau bukan," kata Hermanto, dalam tayangan Newsline Metro TV, Senin 28 April 2026.

Menurut Hermanto, jalur kereta di Jabodetabek sebenarnya telah dilengkapi sistem persinyalan elektronik yang seharusnya mampu mendeteksi keberadaan kereta di depan dan otomatis memberi sinyal berhenti. Oleh sebab itu Hermanto mempertanyakan KA Argo Bromo Anggrek bisa tetap melaju meski jalur di depannya belum steril.

“Jadi kalau ada kereta api di depannya yang masih ada, otomatis blok ini tertutup ya, merah. Saya tidak tahu bagaimana ini kok tiba-tiba masuk. Jadi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Kami mengharapkan dilakukan audit dan investigasi yang lebih ketat terkait prasarana, sarana, SDM, dan termasuk SOP. Apakah ada pelanggaran SOP dan sebagainya," kata mantan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan itu.




Hermanto juga menyoroti belum optimalnya penerapan teknologi Automatic Train Protection (ATP) di kereta konvensional Indonesia. ATP merupakan sistem otomatis yang mampu menghentikan kereta jika masinis terlambat merespons sinyal bahaya.

"ATP ini adalah suatu alat yang yang bisa menghentikan KA dalam kondisi darurat. Jadi apabila masinis terlambat memberikan kondisi merah. Misalnya terlambat mengerem, otomatis alat ini akan mengerem sendiri lokomotifnya," ungkapnya.

Sebetulnya, menurut Hermanto, ATP sudah direkomendasikan sejak kecelakaan serupa pada 2010, di wilayah Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah (Jateng),  yang juga melibatkan kereta Argo Bromo. Kecelakaan itu menewaskan puluhan orang.

Saat ini, teknologi tersebut sudah diterapkan di moda transportasi modern, seperti MRT, LRT, dan kereta cepat. Namun belum merata di kereta reguler.

Terkait infrastruktur, Hermanto menegaskan bahwa jalur KRL Jabodetabek saat ini sudah sepenuhnya menggunakan double track. Termasuk Cikarang, Bogor, dan Rangkasbitung. Namun demikian, peningkatan kapasitas masih terkendala oleh sistem persinyalan yang belum optimal, keterbatasan elektrifikasi, dan kebutuhan peningkatan frekuensi perjalanan (headway).

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)