Trump Mulai Melunak Usai Diultimatum Khamenei

3 February 2026 10:58

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai melunak terhadap Iran usai mendapat ultimatum keras dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Seyyed Ali Khamenei. Trump bahkan berharap untuk dapat mencapai kesepakatan dengan Iran.

Sikap ini menandai perubahan pendekatan Trump, yang sebelumnya kerap melontarkan ancaman agresi militer skala besar terhadap Iran. Dalam pernyataannya, Trump mengaku terbuka terhadap dialog dan menegaskan keinginannya agar Iran menghentikan program nuklirnya.

Namun, respons tegas datang dari Ayatullah Khamenei. Ia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat memulai perang, maka konflik tersebut tidak akan berakhir sebagai perang lokal, melainkan akan meluas menjadi perang regional.

Republik Islam Iran menyatakan tidak pernah memulai perang atau melakukan penindasan. Tetapi jika Amerika menyerang, Khamenei emrakyat Iran akan memberikan pukulan keras,” tegas .

Khamenei juga menilai ancaman Trump, termasuk pengerahan kapal induk Amerika Serikat ke kawasan Teluk Persia, sebagai bentuk tekanan yang tidak akan memengaruhi rakyat Iran. Menurutnya, ancaman semacam itu telah berulang kali disampaikan Washington di masa lalu.

"Menurut saya, mereka seharusnya tidak mengancam rakyat Iran dengan cara-cara seperti ini," jelasnya.
 

Baca juga: Pemimpin Agung Iran Dorong Negara-Negara Muslim Putus Hubungan dengan Israel

Sikap tegas ini juga didukung oleh jajaran militer Iran. Panglima militer Iran, Jenderal Amir Hatami menyatakan bahwa pasukannya dalam posisi siap menarik pelatuk, jika Amerika Serikat melakukan kesalahan sekecil apa pun.

"Kami memantau dengan cermat pergerakan musuh di kawasan. Mereka sepenuhnya berada dalam pengawasan kami. Dan karena kami mengetahui niat jahat mereka, jari kami berada di pelatuk," tegas Amir.

Sementara itu, pengamat geopolitik Timur Tengah Dina Sulaeman menilai sikap Trump mencerminkan melemahnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan. Ia menyebut ancaman yang dilontarkan Washington lebih bersifat gertakan dibandingkan kekuatan nyata.

“Amerika Serikat semakin kehilangan power-nya. Ini berdampak pada dinamika geopolitik kawasan, terutama bagi negara-negara Teluk dan Mesir yang mulai melihat AS tidak sekuat dulu dan tidak lagi bisa sepenuhnya dijadikan sandaran untuk berlindung,” ujar Din Sulaiman.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong sejumlah negara sekutu AS untuk mengambil sikap lebih fleksibel, bahkan memilih 'bermain di dua kaki' dengan tidak mengizinkan wilayahnya dijadikan pangkalan serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)