Jakarta: Jepang dan Tiongkok, dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia, kini sama-sama menghadapi persoalan serius terkait penurunan populasi. Isu ini bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang sudah terjadi dan mulai berdampak pada struktur sosial serta ekonomi kedua negara.
Di Jepang, tren penyusutan penduduk terlihat jelas dalam satu dekade terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar separuh dari 20 kota besar dengan populasi di atas 700 ribu jiwa mengalami penurunan jumlah penduduk dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kota-kota yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas ekonomi dan kehidupan urban kini perlahan menyusut.
Analisis demografi memperkirakan kondisi tersebut bukan fenomena sementara. Proyeksi hingga tahun 2050 menunjukkan populasi Jepang akan terus menurun, dipicu oleh rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia. Ketimpangan antara usia produktif dan lansia pun kian melebar.
Salah satu contoh paling nyata terlihat di Kitakyushu, kota besar di wilayah barat daya Jepang. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, populasi kota ini menyusut sekitar 6,5 persen, dari sekitar 970 ribu jiwa menjadi 910 ribu jiwa. Penurunan ini tercatat sebagai yang paling tajam di antara kota-kota besar lain di Jepang.
Situasi serupa juga terjadi di Tiongkok. Negara dengan populasi terbesar di dunia itu mencatat tingkat kelahiran terendah sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Data Biro Statistik Nasional Tiongkok yang dirilis pada Januari 2026 menunjukkan angka kelahiran tahun 2025 hanya mencapai 5,6 per 1.000 penduduk.
Jumlah bayi yang lahir sepanjang 2025 tercatat sekitar 7,9 juta jiwa, turun 1,6 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang paling tajam sejak 2020 dan mempertegas tren penurunan populasi yang terus berlanjut.
Sejumlah studi menilai
penurunan populasi di Jepang dan Tiongkok berkaitan erat dengan tingginya biaya hidup, tekanan kerja yang berat, urbanisasi ekstrem, serta perubahan pola pikir generasi muda. Banyak anak muda menilai membangun keluarga menjadi semakin sulit di tengah ketidakpastian ekonomi dan tuntutan hidup yang tinggi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar bagi kedua negara. Jika jumlah penduduk usia produktif terus menurun, tantangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, sistem perpajakan, serta keberlanjutan jaminan sosial akan semakin berat di masa depan.
Sebagai dua raksasa ekonomi Asia, Jepang dan Tiongkok kini berada di persimpangan penting. Cara mereka merespons krisis populasi ini akan sangat menentukan stabilitas ekonomi dan sosial kawasan dalam beberapa dekade mendatang.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.