Langit Indonesia kini tidak lagi hanya menjadi domain bagi para pria. Dalam episode spesial program Q&A Metro TV bertajuk "Srikandi Penjaga Langit", tiga sosok pilot perempuan TNI Angkatan Udara (AU) membagikan kisah inspiratif mereka tentang dedikasi, keberanian, dan pengabdian di balik kokpit pesawat militer.
Mereka adalah Kapten (Pnb) Ajeng Tresna, Letda (Pnb) Gini Setya Rahayu, dan Letda (Pnb) Patricia Angelina. Ketiganya mewakili generasi baru penerbang militer yang membuktikan bahwa keterbatasan gender bukanlah penghalang untuk mengemban tugas negara yang berat.
Membawa Tanggung Jawab Negara di Udara
Kapten Ajeng Tresna mengukir sejarah sebagai pilot perempuan Boeing VIP pertama di TNI AU. Tugas utamanya adalah menerbangkan pesawat kepresidenan, mengantarkan orang nomor satu di Indonesia. Mantan Paskibraka Nasional ini menekankan pentingnya mental yang kuat.
"Hidup di lingkungan mayoritas laki-laki adalah tantangan. Pasti ada asumsi bahwa perempuan tidak akan kuat, namun di situlah kita harus membuktikan bahwa kita mampu," ucap Ajeng dikutip dari tayangan
Q&A Metro TV, Minggu, 23 Agustus 2026.
Ia juga berbagi rahasia keseimbangannya antara karier militer dan keluarga, di mana keterbukaan dengan suami yang warga sipil menjadi kunci utama pengabdiannya yang berlangsung 24/7.
Ketangguhan di Balik Super Hercules
Sementara itu, Letda Gini Setya Rahayu, di usia 25 tahun, telah dipercaya mengoperasikan pesawat angkut raksasa C-130J Super Hercules. Tugasnya tak kalah krusial: membawa logistik dan personel pengamanan kepresidenan. Gini sempat mengenang momen mendebarkan saat menghadapi darurat teknis pada roda pendaratan (landing gear) saat hendak mendarat di Pontianak.
"Awalnya gemetar, tapi kita harus tenang untuk mengamankan kru dan pesawat. Salah satu momen paling berharga dalam karier saya adalah saat bisa membawa orang tua terbang bersama saya di kokpit Hercules," ungkap Gini penuh haru.
Pesan untuk Perempuan Indonesia
Sosok termuda, Letda Patricia Angelina yang menerbangkan pesawat CN-295, melengkapi trio Srikandi ini. Berasal dari keluarga militer, ia memilih jalur pengabdian sejak masa muda demi masa depan yang pasti untuk mengabdi pada negara.
Ketiga pilot ini merangkum identitas TNI AU dalam tiga kata: Ampuh, Humanis, dan Produktif. Di akhir sesi, mereka memberikan pesan kuat bagi seluruh perempuan di Indonesia.
"Jangan pernah underestimate diri sendiri. Jangan takut mencoba, karena tidak ada yang mustahil selama ada kemauan. Kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk mengetahui sampai di mana batas limitasi kita," pungkas mereka.
Kisah ketiga Srikandi ini menjadi pengingat bahwa di atas langit Indonesia, ada tangan-tangan tangguh perempuan yang siap menjaga kedaulatan bangsa dengan penuh cinta dan profesionalisme.