11 October 2026 23:12
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di berbagai penjuru Nusantara memicu krisis yang kian mengkhawatirkan. Pekatnya kabut asap tidak hanya melumpuhkan transportasi dan memicu darurat kesehatan domestik, tetapi juga merambah hingga mengganggu aktivitas di negara tetangga.
Di Tulang Bawang, Lampung, jarak pandang yang terbatas akibat asap karhutla memicu tabrakan beruntun sembilan kendaraan di Jalan Lintas Timur Sumatra yang menewaskan dua orang. Sementara itu di Banjarmasin, seorang guru honorer bernama Lisna (29) meninggal dunia. Penderita asma akut tersebut wafat akibat sesak napas setelah setiap hari harus menembus pekatnya asap selama 30 menit perjalanan menuju sekolah, karena aturan belajar dari rumah hanya berlaku bagi siswa.
Krisis kesehatan kian parah di Kabupaten Muaro Jambi, dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menembus level berbahaya di angka 400. Tercatat lebih dari 4.000 warga, didominasi anak-anak, lansia, dan ibu hamil, terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kualitas udara berbahaya (angka 493) juga tercatat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, di mana luas karhutla telah mencapai 1.400 hektare sejak Juni. Di Kota Sampit, jarak pandang pada pagi hari bahkan anjlok di bawah 100 meter, membuat mata perih dan sesak napas.
Dampak asap ini turut melumpuhkan transportasi udara. Jarak pandang yang hanya 300 meter memaksa Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya membatalkan seluruh jadwal penerbangan, sehingga penumpang harus dialihkan ke Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.
Asap karhutla kini telah melintasi batas negara, menyelimuti ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Ikon negara seperti Menara Kembar Petronas dan Merdeka 118 tampak samar tertutup kabut, dan sejumlah sekolah terpaksa ditutup. Merespons krisis lintas negara ini, Menteri Luar Negeri RI telah menjalin komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia untuk menjelaskan langkah penanganan, sembari menaruh harapan pada turunnya hujan.