29 April 2026 12:02
Kondisi perlintasan sebidang di dekat Stasiun Bekasi Timur tengah menjadi sorotan setelah terjadinya insiden kecelakaan yang melibatkan sebuah taksi listrik dan rangkaian KRL, pada Senin malam, 27 April 2026. Lokasi yang menjadi titik tabrakan tersebut diketahui tidak memiliki fasilitas palang pintu otomatis yang memadai untuk menjamin keselamatan pengguna jalan.
Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, perlintasan yang mengarah ke jalan protokol Ir. H. Juanda tersebut hanya menggunakan sebilah bambu sebagai palang pintu. Pengoperasiannya pun dilakukan secara manual oleh warga sekitar yang berinisiatif menjaga area tersebut.
Mirisnya, perlintasan maut ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Titik di mana KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sedang tertahan.
Selain minimnya fasilitas pengamanan, lampu penerangan di area ini juga sangat terbatas. Meski terdapat lampu LED di dekat Jalan Ampera Raya, kekuatannya diragukan mampu menerangi area perlintasan secara optimal saat malam hari.
Awang, salah satu warga yang bertugas menjaga perlintasan, mengungkapkan bahwa penjagaan dilakukan secara swadaya oleh sekitar 30 orang warga yang dibagi ke dalam sif pagi, siang, dan malam. Ia menyebut penggunaan bambu dilakukan karena portal resmi yang dulu pernah ada telah lama rusak.