Banda Aceh: Jembatan Gantung Perintis Garuda membentang di atas Sungai Tamiang sepanjang 240 meter dengan lebar 1,2 meter dan kapasitas beban hingga 400 kilogram. Infrastruktur ini menjadi salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia sekaligus ikon baru Kabupaten Aceh Tamiang.
Jembatan ini dibangun sebagai respons cepat terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada November 2025 dan diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gabungan.
Berkat kehadiran jembatan gantung tersebut para pelajar di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang kini dapat berangkat ke sekolah dengan lebih cepat, aman, dan nyaman.
"Kalau jembatannya bagus, jadi kalau pergi sekolah lebih mudah. Enggak perlu naik perahu lagi, jadi bisa langsung melintasi jembatan," ujar seorang siswi SMP di Aceh Tamiang, dikutip Rabu, 3 Juni 2026.
Bagi para pelajar, kehadiran jembatan tersebut bukan hanya memangkas waktu perjalanan, tetapi juga menghadirkan rasa aman saat berangkat dan pulang sekolah. Siswi SMP tersebut mengaku kondisi jembatan cukup nyaman untuk dilalui.
"Jembatannya kalau dipakai bergantian-bergantian enggak terlalu goyang. Kalau dipakai ramai-ramai baru terasa goyangnya," katanya.
Tak hanya bicara soal kenyamanan, siswi itu juga menitipkan pesan terima kasih kepada para prajurit TNI dan pemerintah yang telah mewujudkan pembangunan jembatan yang selama ini dinantikan masyarakat.
"Untuk Bapak TNI, terima kasih sudah membuat jembatannya. Untuk Bapak Presiden, terima kasih sudah membantu kami untuk membuat jembatan agar bisa melintas dengan mudah," tuturnya.
Kehadiran jembatan persingkat mobilitas warga
Sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu kayu atau memutar perjalanan darat melalui Karang Baru dan Sungai Liput dengan waktu tempuh antara satu hingga dua jam. Kini, perjalanan antardesa dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Komandan Resor Militer (Korem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran mengatakan, pembangunan jembatan tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang selama puluhan tahun mengalami keterbatasan akses.
"Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak ada akses. Atas permintaan masyarakat pascabanjir Aceh, akhirnya kami bangun. Panjangnya 240 meter dan menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia," ujar Ali Imran.
Kini, jembatan itu menjadi akses vital yang memperlancar mobilitas masyarakat, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pendidikan.
Selain menjadi penghubung utama bagi warga dua desa, Jembatan Gantung Perintis Garuda kini juga mulai berkembang sebagai destinasi wisata baru di Aceh Tamiang. Bentangan jembatan yang panjang dengan latar Sungai Tamiang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung.