25 August 2026 23:45
Jakarta: Kebakaran lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah benar-benar padam. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali menyala ketika kondisi kembali kering.
Pakar Forensik Kebakaran Hutan IPB, Prof. Bambang Hero Saharjo, menjelaskan sejumlah alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan.
Bambang menjelaskan lahan gambut tersusun dari biomassa yang telah membusuk selama puluhan tahun. Material tersebut tetap bertahan karena memiliki kandungan air.
“Gambutnya itu terdiri dari biomassa yang membusuk selama sekian puluh tahun dan kemudian masih bertahan sampai sekarang itu karena ada airnya,” ujar Bambang dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa 25 Agustus 2026.
Ketika musim kemarau panjang terjadi, kandungan air di dalam gambut semakin berkurang. Kondisi ini membuat gambut menjadi lebih mudah terbakar.
“Ketika terjadi kondisi seperti sekarang ini maka ketersediaan air itu makin berkurang,” katanya.
Salah satu persoalan utama kebakaran gambut adalah api tidak hanya membakar permukaan. Bara dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan sulit terlihat dari luar.
“Ketika terbakar dan kemudian kita lihat seperti mati itu belum tentu, karena baranya itu masih ada di bawah permukaan,” ujar Bambang.
Karena itu, pemadaman tidak cukup dilakukan hanya pada api yang terlihat. Petugas harus melakukan pembasahan hingga ke bagian bawah permukaan untuk memastikan bara benar-benar mati.
Bambang mengatakan api di lahan gambut dapat kembali muncul setelah sebelumnya terlihat padam. Kondisi kering dan angin dapat memicu bara yang masih tersisa untuk kembali menyala.
Ia mencontohkan pengalaman penanganan kebakaran gambut di Bengkalis. Selama tidak ada hujan yang cukup, peluang bara kembali aktif tetap ada.
“Selama tidak ada hujan maka peluang itu akan muncul kembali. Karena angin begitu terangsang kembali apinya,” tuturnya.
Hal serupa juga dirasakan petugas di Pekanbaru. Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan api terkadang baru kembali muncul beberapa hari setelah proses pemadaman.
“Api ini satu dua hari bisa dia hilang, tapi kadang-kadang hari keempat hari kelima kadang-kadang dia muncul lagi,” ujar Agung.
Faktor utama yang membuat gambut tetap basah dan tidak terbakar adalah ketersediaan air. Namun, di musim kemarau panjang, tinggi muka air tanah turun drastis.
"Ketersediaan air itu makin berkurang. Biasanya di kedalaman 10-20 meter sudah dapat air, sekarang belum tentu. Makin ke sini, pemadaman akan makin sulit dilakukan karena kuncinya adalah air," tambahnya. Tanpa air yang cukup untuk membasahi seluruh lapisan gambut, bara di bawah tanah akan terus merambat.
Untuk mengatasi sulitnya air menembus lapisan dalam gambut, Prof. Bambang memaparkan hasil riset mengenai penggunaan campuran bahan tertentu, seperti tepung jagung, untuk menciptakan "gel".
"Air kalau tidak ada pemberat, dia akan ke mana-mana saat disemprotkan. Tapi kalau disemprot dengan pemberat berupa tepung atau gel, sasaran tembaknya fokus dan gel tersebut akan menutup pori-pori gambut agar api tidak naik lagi," jelasnya.
Metode ini terbukti mampu menekan emisi dan mencegah api muncul kembali di lokasi yang sama.
“Ini sudah diteliti mahasiswa S1 saya di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, kami sampai bisa menghitung dengan cara ini berapa sebetulnya penurunan emisi yang bisa dihasilkan. Kalau tepung ubi saya tidak tahu, tapi kalau tepung jagung sudah pernah dicoba, sudah pernah dilakukan dan sebagainya,” katanya.