24 January 2026 16:31
Bogor: Deretan pot dan rak sederhana berisi tanaman pakcoy, sawi hijau, kangkung, bayam, dan samhong kini menghiasi lorong-lorong yang dahulunya hanya menjadi jalur lalu lalang warga. Tak sekedar mempercantik lingkungan, tanaman-tanaman itu menjadi sumber pangan sekaligus simbol kemandirian warga dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.
Urban farming di Warung Bandrek, Bondongan, Kota Bogor ini bukan hanya soal menanam dan memanen. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi warga, tempat saling bertukar cerita, berbagi bibit, hingga gotong royong merawat tanaman. Dari pagi hingga sore, gang-gang sempit itu berubah menjadi ruang sosial yang hidup dan penuh kebersamaan.
Hasil dari beberapa kali panen pakcoy, sawi hijau, dan bayam yang diperoleh tidak semata-mata untuk konsumsi pribadi. Sebagian hasilnya dijual secara swadaya, lalu uangnya digunakan kembali untuk membeli bibit dan juga pupuk. Pola ini membuat kegiatan urban farming terus berputar dan berkelanjutan tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan luar.
"Ya kesulitannya kita enggak semua enggak langsung besar seperti ini, hanya beberapa petak saja awalnya dirusak anak-anak. Kemudian ada yang menyampaikan ini menghalangi jalan dan sebagainya. Tetapi dari hasil panen itulah membuktikan bahwa ini bisa bermanfaat," kata Yehezkiel, penggerak Urban Farming, dalam program Selamat Pagi Indonesia, Metro Community Metro TV, Sabtu, 24 Januari 2026.