10 September 2026 23:48
Indonesia seperti tidak pernah benar-benar lepas dari ancaman bencana. Ketika satu daerah berhadapan dengan gempa, di tempat lain api masih membakar hutan dan lahan. Ketika sebagian masyarakat berjibaku dengan banjir, aktivitas gunung api juga menuntut kewaspadaan. Bencana datang silih berganti dan angkanya tidak kecil. 1.730 kejadian bencana tercatat sejak awal tahun hingga September 2026, seberapa siap kita menghadapinya?
Gempa menjadi pengingat paling nyata, bencana ini tidak memberi banyak waktu untuk bersiap. Dalam hitungan detik bangunan dapat runtuh, akses jalan terputus, dan masyarakat kehilangan tempat tinggal.
Tetapi persoalan gempa sesungguhnya tidak berhenti pada saat guncangan berakhir. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa kuat bangunan kita, seberapa cepat bantuan datang, dan seberapa siap jalur evakuasi serta apakah masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika bumi kembali bergerak? Sebab gempa mungkin tidak dapat dicegah, tetapi jumlah korban dan besarnya kerusakan harusnya bisa ditekan.
Di tengah ancaman gempa, satu bencana lain masih terus berulang, kebakaran hutan dan lahan. Hingga 7 September 2026, BNPB mencatat 627 kejadian karhutla, sementara pengendalian terus dilakukan di enam provinsi prioritas.
Persoalannya, karhutla bukan sekadar soal api, ada asap, ada gangguan kesehatan, ada kerusakan lingkungan, ada aktivitas ekonomi terganggu, dan ada pertanyaan yang terus berulang: mengapa api terus muncul, apakah cukup menyalahkan cuaca panas dan musim kemarau, atau ada persoalan pencegahan, pengawasan, dan penegakan hukum yang juga harus dibenahi?
Baca Juga :
Kini ancaman gunung api kembali menunjukkan dampaknya. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi terus-menerus sejak 4 September. Aktivitas ini bahkan berlangsung sekitar 25 jam disertai dentuman dan suara gemuruh. Abu vulkanik tersebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu operasional penerbangan. Sejumlah bandara sempat ditutup, ribuan penerbangan terganggu, dan ratusan ribu penumpang terdampak.
Indonesia memang hidup di kawasan Ring of Fire, tetapi pertanyaannya bukan lagi apakah erupsi akan terjadi, karena erupsi akan terus menjadi bagian dari risiko Indonesia. Pertanyaannya adalah seberapa siap kita ketika aktivitas satu gunung api bisa mengganggu kehidupan di wilayah yang jauh dari kawahnya?
Banyaknya bencana tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ketika bencana terjadi, pemerintah harus menyiapkan evakuasi, makanan, obat-obatan, tempat pengungsian, hingga peralatan untuk menyelamatkan korban.
Tahun ini BNPB mengelola anggaran reguler sekitar Rp1,05 triliun, selain itu ada dana siap pakai sebesar Rp4,62 triliun untuk penanganan darurat. Namun dengan bencana yang terus terjadi, BNPB kini mengusulkan tambahan dana siap pakai sebesar Rp5,67 triliun. Artinya kebutuhan dana untuk bencana bisa bertambah ketika jumlah kejadian dan dampaknya juga bertambah.
Yang tidak kalah penting adalah berapa banyak anggaran yang disiapkan untuk mencegah korban sebelum bencana datang. Pemerintah mulai menempatkan persoalan ini pada titik yang berbeda, bukan hanya bagaimana menangani bencana, tetapi bagaimana mengantisipasinya.