Ratusan umat Buddha memadati lokasi Api Abadi Mrapen sejak Jumat pagi sebagai rangkaian Hari Raya Waisak, yang jatuh pada Minggu 31 Mei 2026. Mereka berkumpul di Aula Api Mrapen untuk mengikuti seluruh rangkaian ritual pengambilan Api Dharma Tri Suci Waisak.
Dengan menggunakan obor, para tokoh agama dan ketua pengurus Walubi mulai mengambil api di pusat nyala Mrapen. Api tersebut kemudian disulutkan ke dalam tungku Api Dharma Tri Suci Waisak yang siap dikirap menuju Kabupaten Magelang.
Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Daerah Walubi Jawa Tengah Gunawan, Api Dharma ini menjadi simbol penerangan yang menghapus kegelapan serta ketidaktahuan. Api ini juga diharapkan dapat menyucikan hati dan pikiran sehingga mampu mewujudkan kerukunan beragama dan berbangsa atas landasan cinta kasih.
"Makna api itu bagi kami umat Buddha itu sebagai penerang di kegelapan jadi sebagai pegangan buat kita bahwa dalam belajar Dharma umat Buddha itu harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga segala pemikiran dan aktivitas yang diambil itu bisa memberikan manfaat yang baik bagi sesama," ujar Gunawan, dalam program Top News Metro TV, Jumat, 29 Mei 2026.
"Jadi kami mengharapkan Waisak tahun ini semua doa yang dilakukan oleh para umat
Buddha maupun makhluk-makhluk yang berjodoh itu bisa membawa perdamaian di dunia yang semakin berkonflik ini ya," kata Gunawan, menambahkan.
Sekitar pukul 15.30 WIB, rombongan pembawa Api Dharma dari Mrapen tiba di kawasan Candi Mendut, Magelang. Api Dharma tersebut kemudian dibawa menuju altar utama di dalam Candi Mendut untuk didoakan.
Prosesi pensakralan berlangsung sangat khidmat, di mana doa pujaan dan Paritta Suci dilantunkan secara bergantian oleh para sangha, serta berbagai majelis di bawah naungan Walubi.
Bagi umat Buddha, makna dari api ini bukanlah sekadar cahaya fisik. Api ini menjadi simbol utama untuk menerangi dan mengusir kegelapan batin manusia yang menjadi sumber utama dari segala bentuk penderitaan di dunia.
Wakil Ketua Panitia Waisak 2026 Karuna Murdaya mengatakan ritual pensakralan ini rutin dilakukan setiap tahunnya, yang nantinya akan disandingkan dengan air suci dari Temanggung, Jawa Tengah.
"ini satu ritual yang kita lakukan setiap tahun bersama pengambilan air suci. Jadi, itu ada dua-duanya ada maknanya, itu Api Dharmanya untuk kasih penerangan dan ketahuan, sekaligus besok ada acara air sucinya diambil dari umbul Jumprit itu untuk pembersihan mensucikan diri itu yang lebih maknanya ke ke cinta kasih metta atau welas asih, karena dua ini ya bekerja sama itu maknanya itu penerangan dengan batin yang bersih," kata Karuna.
Setelah selesai didoakan, Api Dharma ini untuk sementara waktu akan disemayamkan dan dijaga ketat di Candi Mendut. Ritual puncaknya Api Dharma dan air suci ini akan dibawa melalui Kirab Agung menuju Candi Borobudur pada 31 Mei 2026.