Jakarta: Kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti untuk mengonsumsi informasi, terutama berita negatif, sensasional, atau mengkhawatirkan, yang dikenal dengan istilah doomscrolling kini memunculkan ancaman baru bagi kesehatan mental. Di era digital, semakin banyak orang tanpa sadar mengalami fenomena yang disebut sebagai “popcorn brain.”
Popcorn brain merujuk pada kondisi di mana otak terlalu terbiasa dengan rangsangan cepat, intens, dan konstan dari dunia maya. Akibatnya, otak seolah terus “meletup” seperti popcorn, selalu menuntut aliran informasi baru dan lonjakan dopamin tanpa henti.
Dampak ‘Popcorn Brain’ bagi Kesehatan Mental
Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh karena dapat mengubah cara kerja otak secara perlahan. Beberapa dampak yang ditimbulkan antara lain:
- Penurunan fokus (attention span): Otak kesulitan berkonsentrasi pada aktivitas yang lebih lambat seperti membaca atau bekerja.
- Kecemasan dan gelisah: Muncul rasa tidak nyaman saat jauh dari ponsel atau internet.
- Kelelahan mental (burnout): Paparan informasi negatif terus-menerus memicu stres dan mengganggu kualitas tidur.
- Cara Mengatasi Kebiasaan Doomscrolling
Meski berdampak serius, kondisi ini masih bisa dikendalikan dengan langkah sederhana, seperti:
- Batasi screen time: Gunakan fitur pembatas waktu pada aplikasi media sosial.
- Lakukan detoks digital: Hindari penggunaan ponsel, terutama satu jam setelah bangun dan sebelum tidur.
- Latih fokus offline: Biasakan aktivitas tanpa gawai seperti membaca buku, berjalan kaki, atau hobi lainnya.
Dengan disiplin dan kesadaran, ritme otak dapat kembali normal. Mengelola penggunaan teknologi menjadi kunci penting untuk menjaga kesehatan mental di era digital.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Daffa Yazid Fadhlan)