Mengenal JOMO, Gaya Hidup Kebalikan dari FOMO yang Semakin Populer-Gaya Hidup

Wijokongko • 16 June 2026 09:21

Jakarta: Di era media sosial, banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren, menghadiri berbagai acara, atau terus terhubung dengan aktivitas orang lain agar tidak merasa tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan cemas karena khawatir melewatkan pengalaman, informasi, atau momen yang dianggap penting.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, muncul konsep JOMO (Joy of Missing Out), sebuah gaya hidup yang mengajak seseorang menikmati ketenangan dan merasa puas tanpa harus selalu ikut dalam setiap aktivitas atau tren yang sedang berlangsung.

Melansir dari laman Medium, JOMO merupakan kebalikan dari FOMO. Konsep ini menggambarkan perasaan bahagia dan puas saat memilih untuk beristirahat, mengurangi kesibukan, atau menikmati waktu sendiri sebagai bentuk perawatan diri. JOMO menekankan bahwa kedamaian dan kesejahteraan pribadi tidak selalu harus dikorbankan demi memenuhi tuntutan sosial yang terus-menerus.

Mengapa Joy of Missing Out  Muncul?


Salah satu pemicu utama FOMO adalah tekanan sosial. Banyak orang merasa harus hadir di tempat yang dianggap penting, bertemu dengan orang yang tepat, atau mengikuti berbagai kegiatan demi pekerjaan, keluarga, maupun lingkungan pertemanan.

Tekanan tersebut seringkali membuat seseorang merasa lelah secara fisik dan mental. Dalam kondisi inilah JOMO hadir sebagai alternatif yang lebih sehat. Jika FOMO berakar pada ketakutan tertinggal dan kebutuhan untuk selalu terhubung, JOMO justru mengajarkan seseorang untuk menikmati waktu sendiri, mengejar minat pribadi, dan merasa nyaman dengan keputusan yang diambil tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Melansir dari laman Institut Pertanian Bogor (IPB), salah satu akademisi menyatakan jika JOMO bukan berarti menarik diri dari kehidupan sosial atau menghindari interaksi dengan orang lain. Sebaliknya, konsep ini lebih menekankan pada kemampuan untuk merefleksikan diri dan menentukan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Salah satu cara menerapkan JOMO adalah dengan membatasi waktu layar (screen time), melakukan social media detox, serta mengevaluasi apakah aktivitas digital yang dilakukan selama ini justru mengganggu tujuan hidup di dunia nyata.

Kesadaran dalam mengelola koneksi digital juga menjadi bagian penting dari JOMO, terutama agar seseorang tidak terus-menerus merasa terikat dengan notifikasi atau aktivitas media sosial di luar kebutuhan yang sebenarnya.

Manfaat JOMO  bagi Kesehatan Mental


Melansir dari laman Universitas Sanata Dharma, terdapat tiga aspek penting yang menjadikan JOMO bermanfaat bagi kesehatan mental.


1. Meningkatkan Otonomi 


JOMO membantu seseorang membuat keputusan berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadinya, bukan karena tekanan sosial atau keharusan mengikuti tren. Dengan memilih aktivitas yang benar-benar bermakna, individu dapat merasa lebih memiliki kendali atas hidupnya sendiri.


2. Mendukung Pengembangan Diri


Ketika tidak lagi terfokus pada aktivitas yang kurang penting, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan, menyelesaikan pekerjaan, mempelajari keterampilan baru, atau mengejar tujuan pribadi yang lebih relevan.


3. Membangun Relasi yang Lebih Bermakna


Meski sekilas terlihat seperti menjauh dari lingkungan sosial, JOMO justru dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih berkualitas. Dengan mengurangi aktivitas sosial yang tidak memberikan nilai berarti, individu dapat lebih fokus pada hubungan yang mendalam dan autentik dengan orang-orang terdekat.

Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan media sosial, JOMO menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kesibukan atau keterlibatan dalam setiap tren. Terkadang, memilih untuk beristirahat, menikmati waktu sendiri, dan fokus pada hal yang bermakna justru dapat memberikan ketenangan serta keseimbangan yang lebih baik bagi kesehatan mental.

(Jessica Nur Faddilah)

(Wijokongko)