1 August 2026 18:53
Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Seto Handoko mengatakan fenomena El Nino kuat yang saat ini terjadi di Indonesia diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2027. Menurutnya, dampak El Nino akan semakin terasa pada Agustus-September 2026 karena bertepatan dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Tri Seto menjelaskan El Nino menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu pergeseran massa udara dari Indonesia. Akibatnya, curah hujan di banyak wilayah berkurang sehingga meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta gangguan di sektor pertanian, kesehatan, energi, dan pariwisata.
"BMKG tegas mengatakan dalam press release kemarin bahwa El Nino kuat sudah terjadi. Bahkan ada juga potensi El Nino sangat kuat. Memang El Nino diperkirakan terjadi sampai awal tahun 2027, tetapi dampaknya semakin terasa ketika berbarengan dengan musim kemarau," kata Tri Seto Handoko dalam program Metro Siang Metro TV, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Ia menyebut wilayah Indonesia bagian selatan menjadi kawasan yang paling terdampak karena musim kemarau lebih dahulu terjadi di wilayah tersebut.
"Sampai dengan hari ini kalau kita melihat data hari tanpa hujan di Indonesia itu memang wilayah-wilayah Indonesia bagian selatan khususnya Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara ya kemudian juga Sumatra bagian selatan, lalu Kalimantan bagian selatan, ada Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan bagian selatan, kemudian di Sulawesi ya Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, dan ada juga Sulawesi Utara dan juga Papua Selatan," ujarnya.
Baca Juga :