Jakarta: National Aeronautics and Space Administration (NASA) resmi meluncurkan misi Artemis II pada Rabu, 1 April 2026, sebagai tonggak kembalinya misi berawak manusia ke Bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak era Apollo.
Misi ini menjadi langkah awal dalam ambisi besar eksplorasi luar angkasa jangka panjang, termasuk rencana kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan hingga misi ke Mars.
Setelah lebih dari 50 tahun sejak terakhir kalinya manusia menjalani misi ke Bulan, kini misi berawak Artemis II telah meluncur dan mulai mengorbit Bumi. Kru Artemis II terdiri dari tiga astronaut asal Amerika Serikat, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta satu astronaut asal Kanada, Jeremy Hansen. Misi ini akan berlangsung selama 10 hari, dan diperkirakan kru akan mencapai Bulan pada Senin, 6 April 2026.
Latar Belakang Program Artemis
Awal mula perancangan
misi Artemis berangkat dari keinginan untuk kembali membawa manusia ke Bulan, namun dengan tujuan kehadiran jangka panjang. Hal ini didukung oleh teknologi modern yang berkembang pesat dibandingkan era misi Apollo, serta adanya kemitraan komersial.
Misi ini menjadi momen historis bagi umat manusia. Misi terakhir manusia ke Bulan terjadi pada Apollo 17, tepatnya pada 6 Desember 1972. Dalam rangkaian misi Apollo, sebanyak 24 astronaut berhasil melakukan perjalanan ke Bulan, dengan 12 di antaranya mendarat di permukaannya. Lebih dari setengah abad telah berlalu sejak pencapaian tersebut.
Melansir situs resmi NASA, Artemis II akan mengirimkan kru menggunakan wahana Orion spacecraft dalam misi uji terbang yang mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi. Misi ini merupakan penerbangan berawak pertama dalam program Artemis, dengan tujuan utama mendemonstrasikan sistem pendukung kehidupan (
life support system) pada wahana Orion.
Pengujian Sistem dan Kondisi Awak
Keempat awak
Artemis II akan menguji berbagai sistem operasi Orion selama misi berlangsung. Salah satunya adalah melakukan penerbangan kapsul secara manual di orbit Bumi sebagai bagian dari pelatihan pengendalian pesawat ruang angkasa untuk misi pendaratan di masa depan. Para kru juga akan menjalani serangkaian pengujian medis serta mengirimkan data dari luar angkasa, sambil bekerja dalam kabin kecil dalam kondisi tanpa gravitasi (
weightlessness).
Meski tidak mendarat di permukaan Bulan, misi ini menjadi langkah awal menuju kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan, sekaligus membuka peluang untuk misi ke planet Mars. Perencanaan program Artemis ke depan masih panjang, dengan
Artemis II sebagai tahap awal misi berawak. Misi lanjutan, termasuk Artemis III, direncanakan akan meluncur pada 2027, disusul Artemis IV dan V dengan target pendaratan di permukaan Bulan pada 2028.
(Odetta Aisha Amrullah)