Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Penjelasan ESDM soal Potensi Tsunami

7 September 2026 11:32

Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami erupsi pada awal September 2026. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama terkait potensi tsunami seperti yang pernah terjadi pada 2018. Lantas, apakah erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini berpotensi memicu tsunami?

Pernyataan Resmi Kementerian ESDM Mengenai Krakatau

Gunung Api Anak Krakatau telah berstatus Siaga sejak Juli 2026 yang menandakan gunung tersebut kembali aktif. Aktivitas vulkanik Gunung Api Anak Krakatau kemudian mengalami erupsi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyatakan bahwa tidak semua erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami. Hal ini menjadi jawaban bagi masyarakat setelah adanya tsunami Krakatau seperti pada 2018. Dengan demikian, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan ancaman bencana tsunami sejauh ini masih dalam batas aman.

Situasi hubungan aktivitas vulkanik dengan tsunami Krakatau juga disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilowati. Ia mengatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi besar pada Desember 2018 masih relatif kecil.

Dari pengamatan dua stasiun yang berada di Pasauran dan Kalianda, pertumbuhan tubuh gunung ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan yang dapat memicu tsunami.
   

Peringatan Peneliti BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga turut memberikan peringatan terkait situasi ini. Erma Yulihastin selaku Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN menanggapi insiden Gunung Api Krakatau melalui akun X pribadinya.

Sebelumnya, Erma juga terus memberikan informasi pantauan mengenai letusan signifikan Anak Krakatau. Letusan piroklastik Anak Krakatau dimulai sekitar pukul 23.00 WIB pada 5 September. Letusan ini membentuk awan pirokumulus, yaitu awan debu panas yang mengandung sulfur oksida.

Awan ini melingkupi Pulau Enggano sehingga jika letusan diamati melalui satelit, volume letusan terlihat sangat signifikan dan tebal. Letusan ini juga membentuk kolom abu yang tinggi dengan estimasi mencapai 13-14 kilometer. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.

“Status masih Siaga Level III (jauhi aktivitas di sekitar 3 km dari gunung). Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat,” tulisnya dalam unggahan X pada Minggu, 6 September 2026.

Selanjutnya, erupsi Gunung Anak Krakatau sudah berhenti sekitar pukul 00.00 WIB berdasarkan citra satelit Himawari. Badan Geologi melaporkan masih terjadi erupsi kembali pada pukul 07.00 WIB sehingga kode merah bagi penerbangan dan Level Siaga III masih berlaku.

Masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di wilayah yang disebutkan, diimbau untuk memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga bisa memantau informasi terkini mengenai aktivitas magma melalui situs magma.esdm.go.id dan memantau arah sebaran letusan melalui Zoom Earth.

Nah, meski aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat dan masyarakat masih diimbau untuk waspada, pemerintah memastikan potensi tsunami sejauh ini masih dalam batas aman. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dan menghindari aktivitas di sekitar kawasan gunung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X