31 October 2026 15:17
Majalah Listrik Indonesia menggelar ajang penganugerahan Nusantara Electrification Award (NEA) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Jumat, 30 Oktober 2026 malam. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi bagi insan dan institusi kelistrikan nasional yang berperan aktif mendorong tercapainya target 100 persen elektrifikasi di seluruh pelosok Tanah Air pada 2029.
Penghargaan tersebut secara khusus diserahkan kepada para pimpinan unit kerja PLN, pelaku industri swasta, serta tiga tokoh kelistrikan nasional, yakni Dewi Kam, Sripeni Inten Cahyani, dan Bernardus Sudarmanta.
Direktur Utama PT PLN, Suroso Isnandar, menegaskan bahwa pencapaian rasio elektrifikasi merata dan target nol emisi karbon (net zero emission) memerlukan kolaborasi lintas sektor.
"PLN sebagai pilar utama kelistrikan nasional tidak bisa berjalan sendirian. Kami membutuhkan para pionir, inovator, dan mitra strategis seperti para peraih NEA Award hari ini. Sinergi yang kuat antara PLN, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat adalah kunci utama untuk mencapai target elektrifikasi nasional dan net zero emission," ujar Suroso dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Mengusung tema "Accelerating a 100 Percent Equitable National Electrification", ajang ini menekankan pentingnya keadilan energi. Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menyampaikan bahwa elektrifikasi bukan sekadar capaian angka statistik, melainkan fondasi bagi perubahan taraf hidup masyarakat.
"Di balik angka elektrifikasi itu, ada kehidupan masyarakat yang ingin kita ubah. Karena ada anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar, ada fasilitas kesehatan yang membutuhkan pasokan listrik yang andal, dan juga ada kegiatan ekonomi masyarakat yang membutuhkan listrik untuk terus tumbuh dan berkembang" tutur Arsyadany.
Optimisme pencapaian target pada tahun 2029 turut disuarakan oleh Direktur Utama PT PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta. Menurutnya, hambatan geografis di wilayah terpencil kini dapat diatasi berkat pesatnya perkembangan teknologi energi terbarukan.
"Kalau dulu melakukan elektrifikasi itu terkendala dengan masalah mahalnya pembangunan infrastruktur transmisi ke daerah-daerah terpencil begitu ya, tapi dengan berkembangnya teknologi smart microgrid, kemudian teknologi solar PV, teknologi BESS yang kompak dan size-nya bisa disesuaikan dengan kebutuhan, maka sangat memungkinkan untuk di-deploy di daerah-daerah terpencil,” jelas Bernadus.
Sementara itu, Ketua Dewan Pakar Listrik Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, menambahkan bahwa ajang ini murni menilai karya nyata dan dedikasi, bukan kompetisi seremonial. Apresiasi ini diharapkan terus memacu semangat seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pemerataan akses listrik yang andal dan ramah lingkungan di Indonesia.