NEWSTICKER

Bedah Editorial MI: Kompetisi Tanpa Politik SARA

1 November 2022 07:57

Isu suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA kerap menjadi persoalan sensitif di tengah kehidupan masyarakat kita yang beragam. Masalah SARA bahkan tak jarang dipolitisasi dan dikapitalisasi demi tujuan politik.

Di negeri ini, SARA punya dua sisi. Sisi pertama, multisuku, multiagama, multiras, dan multigolongan adalah modal berharga untuk merajut kekuatan. Sisi lain, kemajemukan itu adalah ancaman yang sewaktu-sewaktu bisa menjadi biang perpecahan. Ia ibarat api dalam sekam yang bila tak disikapi dengan bijak bestari bisa mencerai-beraikan anak-anak bangsa ini.

Terlalu sensitifnya soal SARA, para founding father kita ekstra hati-hati dalam menyikapinya. Dengan kebesaran hati mereka yang seluas samudralah SARA ditenun menjadi kain kebangsaan hingga sekarang.

Namun, tenun kebangsaan itu tak selamanya kuat. Ia beberapa kali terancam robek, bahkan tercabik-cabik. Ancamannya pun masih ada dan akan terus ada, terutama di saat ada hajatan demokrasi. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan politisasi SARA.

Dalam rekomendasi di bidang politik, Forum Rektor Indonesia mengajak seluruh komponen bangsa menjadikan pemilu sebagai media pendidikan politik untuk pembangunan moral bangsa yang luhur. Caranya dengan mengedepankan nilai kejujuran, keteladanan moral, dan keadaban kontestasi dalam sistem demokrasi, serta hindari persaingan politik yang mengesampingkan nilai-nilai moral.