22 February 2026 23:39
Ketegangan di Timur Tengah kian meruncing seiring buntunya perundingan program nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, kedua negara kini saling melontarkan ancaman dan mulai mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di kawasan Teluk.
Sebagai bentuk unjuk kekuatan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menggelar latihan angkatan laut gabungan dengan Rusia di Laut Oman sejak Rabu. Latihan ini melibatkan manuver kapal perang dan pengerahan personel helikopter, yang diklaim sebagai bagian dari diplomasi pertahanan rutin Iran.
Teheran juga mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz di Teluk Persia dengan alasan keamanan terkait latihan militer tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran global, mengingat selat tersebut merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia.
Ultimatum Trump dan Pengerahan Militer AS
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump merespons keras kebuntuan negosiasi yang telah berlangsung dua kali dalam tiga pekan terakhir. Trump mengeluarkan ultimatum, memberikan waktu 10 hingga 15 hari ke depan bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan. Jika gagal, AS mengancam akan melancarkan serangan militer terbatas.
Ancaman tersebut diikuti dengan eskalasi pergerakan militer. AS dilaporkan telah mengerahkan dua kapal induk, belasan kapal perang, dan ratusan jet tempur ke perairan Timur Tengah. Selain itu, aktivitas penerbangan sipil di Bandara Internasional Sofia, Bulgaria, sempat dihentikan akhir pekan ini guna memfasilitasi pergerakan pesawat transportasi militer AS yang membawa persenjataan.
Potensi Perang Terbuka
Analis Timur Tengah, Faisal Assegaf, menilai perundingan nuklir ini kemungkinan besar akan berakhir buntu karena tuntutan AS yang dianggap berlebihan.
"Trump tidak hanya meminta penghentian program nuklir, tetapi juga menuntut Iran menghentikan program rudal balistiknya, serta memutus aliran dana dan teknologi kepada milisi-milisi anti-Israel seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan Houthi," jelas Faisal.
Melihat pergerakan armada dan amunisi yang masif, Faisal menilai kemungkinan pecahnya perang terbuka antara kedua negara semakin nyata.
Menanggapi ultimatum Washington, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan peringatan keras yang ditafsirkan sebagai sindiran terhadap kapal induk AS. Khamenei menegaskan bahwa senjata yang dimiliki Iran saat ini mampu mengirim kapal-kapal perang tersebut ke dasar laut.
Kini, dunia internasional menanti dengan cemas apakah tenggat waktu 15 hari dari Washington akan membawa kedua belah pihak kembali ke meja perundingan atau justru memicu perang terbuka yang menghancurkan kawasan Timur Tengah.