Jakarta: Di balik pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, ada pola kerja disiplin dan strategi kepemimpinan yang jarang terlihat publik.
Para pemimpin pengembangan AI di Google ternyata tidak hanya fokus pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pola pikir dan budaya kerja.
Salah satu figur sentral dalam pengembangan AI global adalah Sundar Pichai, yang kerap menekankan bahwa AI harus dikembangkan secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi banyak orang. Di bawah kepemimpinannya, Google memperluas riset dan implementasi AI ke berbagai lini produk.
Kebiasaan Kerja Para Pemimpin A
Berikut beberapa kebiasaan kerja yang menjadi ciri para pemimpin AI di perusahaan tersebut:
1. Belajar Setiap Hari
Dunia AI berkembang sangat cepat. Membaca jurnal riset terbaru, berdiskusi dengan peneliti, serta mengeksplorasi ide baru menjadi rutinitas. Rasa ingin tahu bukan sekadar nilai tambah, tetapi kebutuhan utama.
2. Fokus pada Pemecahan Masalah Nyata
Teknologi AI tidak dikembangkan hanya untuk terlihat canggih. Sistem dirancang untuk menyelesaikan persoalan konkret, mulai dari pencarian informasi, penerjemahan bahasa, hingga efisiensi operasional.
3. Kolaborasi Lintas Disiplin
Pengembangan AI melibatkan peneliti, engineer, ahli etika, hingga tim produk. Proyek besar tidak dikerjakan sendirian, melainkan melalui kolaborasi dengan perspektif yang beragam agar hasilnya lebih komprehensif.
4. Mengutamakan Etika dan Keamanan
Seiring meningkatnya kemampuan AI, isu etika dan perlindungan pengguna menjadi perhatian utama. Transparansi, keamanan data, dan tanggung jawab sosial menjadi bagian dari strategi pengembangan.
5. Disiplin dalam Manajemen Waktu
Meski memimpin proyek berskala global, para pemimpin AI tetap menyediakan waktu untuk berpikir strategis, bukan hanya terjebak dalam rapat dan operasional harian.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa menjadi “bos AI” bukan hanya tentang kemampuan teknis seperti coding, melainkan tentang kepemimpinan, visi jangka panjang, dan komitmen terhadap inovasi yang bertanggung jawab.
Di era kecerdasan buatan, kemampuan beradaptasi dan terus berkembang menjadi kunci utama. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat sementara pola pikir manusialah yang menentukan arah masa depan.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Calista Vanis)