Kiprah Soraya Syahnaz Pilot Wanita Indonesia

21 April 2026 16:01

Perbedaan gender bukan suatu penghalang untuk meraih cita-cita. Sebagai seorang penerbang perempuan, Soraya Syahnaz mampu menunjukkan prestasi dalam dunia pekerjaan yang penuh tantangan.

Kesetaraan gender atau emansipasi perempuan erat kaitannya dengan sosok Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini. Sosok R.A. Kartini dikenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia. Di era yang semakin modern, wujud emansipasi wanita dapat terlihat dari berbagai sisi kehidupan sehari-hari. Salah satunya pada bidang pekerjaan yang memiliki risiko tinggi.

Soraya Syahnaz menjadi seorang penerbang perempuan yang berkiprah di maskapai Garuda Indonesia. Bagi Syahnaz, menjadi seorang penerbang perempuan memiliki kebanggaan tersendiri. Menariknya, sebelum sekolah penerbangan, Soraya telah menyelesaikan program magister kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Meski lulusan awal semasa kuliahnya tidak berhubungan dengan penerbangan, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang penerbang perempuan.

Setelah memantapkan niat untuk menjadi seorang penerbang, Soraya mengikuti ujian masuk sekolah penerbang di Bali International Flight Academy. Sesudah menamatkan pendidikan di BIFA, Soraya langsung bergabung dengan maskapai Garuda Indonesia.

"Waktu saya setelah selesai untuk S2 Notaris, baru saya akhirnya memilih untuk mencoba ikut ujian penerbang, sekolah penerbang di Bali. Setelah saya ikuti beberapa kali ujian dalam di sekolah pilot itu di BIFA, akhirnya Papa saya barulah bisa menerima kalau ternyata anak perempuannya juga sanggup untuk menjadi penerbang dan setelah itu Papa saya sangat mensupport." kata First Office Garuda Indonesia, Soraya Syahnaz, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa, 21 April 2026.
 

Baca juga: Menteri PPPA: Seluruh Elemen Harus Sinergi Berdayakan Perempuan


Menjadi seorang penerbang terkadang membuat dirinya harus menghadapi tantangan dari balik kokpit pesawat. Menurut penerbang yang kerap disapa Ayya itu, seluruh penerbang memiliki tantangan yang sama, seperti cuaca buruk, turbulensi, hingga tantangan untuk menerbangkan pesawat ke daerah konflik. Bagi Ayya, tantangan dari balik kokpit pesawat tidak mengenal gender, sehingga setiap penerbang harus memiliki ilmu dan solusi untuk menghadapi setiap tantangan.

Selain sebagai penerbang, Soraya Syahnaz juga berperan sebagai seorang ibu bagi anaknya di rumah. Di tengah jam penerbangan yang padat, Soraya selalu menyempatkan diri untuk menjadi sosok ibu yang baik. Walau terkadang tuntutan pekerjaan membuatnya beberapa kali harus melewatkan momen penting bersama keluarga, seperti harus bekerja saat hari raya Idulfitri, tidak dapat menemani sang putra saat ada acara di sekolah, hingga melewatkan beberapa acara bersama keluarga besarnya.

Meski ada tantangan pada lingkup pekerjaan maupun keluarga, Soraya Syahnaz tetap menunjukkan tanggung jawab pada kedua hal itu. Di dunia penerbangan, prioritas keselamatan mengantarkan penumpang ke tempat tujuan adalah tanggung jawab utamanya. Lalu di lingkup keluarga, Soraya selalu memanfaatkan waktu libur untuk mendampingi sang anak.

"Pencapaian aku adalah menjadi seorang penerbang di Garuda dan menjadi seorang ibu untuk anakku. Di situ saya dapat membagi waktu untuk anak dan juga saya masih dapat membagi waktu kerja saya dengan maksimal." ucapnya.

Selama 11 tahun menjadi penerbang perempuan, bagi Soraya Syahnaz, penghargaan terbesarnya ketika mampu memberikan loyalitas kepada tempat kerjanya, serta mampu bekerja secara profesional pada bidang pekerjaannya. Ayya menuturkan bahwa melalui kinerja yang profesional mampu menunjukkan kesetaraan pada bidang pekerjaan yang hingga saat ini masih didominasi oleh penerbang laki-laki.

"Kita sebagai perempuan membuktikan bahwa kita tuh setara. Laki-laki dan perempuan itu setara. Tidak ada perbedaan dalam masalah gender dalam melakukan saya sebagai penerbang atau apa pun, akhirnya hal itu dapat kita lalui sih." ungkapnya.

Perjalanan karier Soraya Syahnaz menjadi First Officer Garuda Indonesia menjadi bukti bahwa perbedaan gender bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Berawal dari lulusan magister kenotariatan, memutuskan untuk menjadi seorang penerbang adalah bukti bahwa cita-cita dapat diraih dengan usaha yang maksimal.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)